Kamis, 01 Maret 2012

TITIK PERSAMAAN MANUSIA DENGAN BINATANG

Oleh:Main Virgiawan_
"TITIK PERSAMAAN KITA DENGAN
HEWAN ~~~ Saudaraku… Apa bedanya kita dengan hewan?
Seorang guru dari Sudan pernah
mengatakan bahwa manusia
adalah "hayawan 'akil wa yantiq"
hewan yang berakal dan
berbicara. Itu artinya perbedaan kita dengan hewan memang
sangat tipis. Walaupun secara fisik
dan sisi rupa kita masih di atas
angin. Artinya seburuk-buruknya
wajah kita jelas masih lebih
kinclong dibandingkan penghuni kebun binatang di Malaz sana. Namun ketika kita berbicara tak
terarah, ngelantur tak terukur
dan kita tak lagi mengfungsikan
akal kita dengan baik, maka
tentunya kita layak disandingkan
dengan orang utan. Wajar jika ada orang menyamakan
seseorang yang tak mengenal
aturan sebagai "binatang." Tapi sebenarnya dalam kaca mata
agama, masa depan hewan dan
binatang ternak di akherat jauh
lebih cerah daripada manusia yang
berakal ini. Bagi mereka yang
memiliki pendengaran, penglihatan dan hati. Tetapi hakekatnya
mereka tuli, buta dan gelap
hatinya. Untuk itulah orang kafir
berandai-andai di neraka,
"Alangkah baiknya sekiranya aku
dahulu adalah tanah." (An Naba': 40). Maksudnya adalah ia ingin
diciptakan Allah menjadi binatang
atau hewan saja di dunia. Karena
setelah dilaksanakan qishash di
akherat (misalnya yang pernah
nyeruduk hewan lain akan diseruduk) dan setelah itu
hewan-hewan itu akan
dimusnahkan menjadi tanah atau
debu. Demikian disebutkan oleh
sebagian ahli tafsir. Pertanyaannya adalah kapan kita
serupa dengan binatang atau
hewan? Syekh Mustafa Siba'i rahimahullah
pernah menjawab pertanyaan kita
ini dengan sebuah jawaban: Siapa yang mendengar al Qur'an
dibaca tapi tak mendatangkan
kekhusyu'an. Siapa yang teringat dosa di masa
lalunya, tapi tak membuatnya
bersedih hati. Siapa yang melewati beragam
peristiwa tapi tak mau mengambil
pelajaran darinya. Siapa yang mendengar bencana
alam di sekitarnya, tapi hatinya
tak meradang dan menjerit pilu. Duduk dan bertetangga dengan
ulama tetapi ia tak mau belajar
dan mengambil ilmu darinya. Tinggal di lingkungan ahli hikmah
tetapi tak menjadikannya bijak
dalam mensikapi hidup. Siapa yang membaca sejarah
hidup orang-orang besar yang
telah mengukir sejarah, tapi tak
tergerak semangatnya menjadi
orang besar. Pada saat itulah ia sama dengan
hewan yang makan dan minum.
Meskipun ia seorang manusia yang
berbicara dan bercakap-cakap. Saudaraku subhanallah… Nasehat yang menusuk dada kita
dan bahkan sampai ke ulu hati
kita. Kita sadar mengaku dengan
jujur.. Al Qur'an belum membekas di
kalbu kita. Jauh dari kata khusyu'.
Mungkin karena hati kita
terlampau gelap karena dosa dan
maksiat yang terus menerus
terulang. Raja' (rasa harap) kita kepada
Allah lebih besar dari rasa khauf
(takut) akan azab-Nya. Sehingga
dosa dan maksiat teramat mudah
untuk kita lupakan. Berbeda
dengan salafus shalih, amal shalih mereka lupakan dan rasa khauf
selalu mereka hadirkan. Sakit, bangkrut, jatuh miskin,
persoalan hidup tak pernah sepi
menyapa kita, tapi tak membuat
kita sadar bahwa kita adalah
makhluk dhaif yang selalu menanti
huluran tangan-Nya. Bencana alam yang menyapa
negeri kita, hanya kita
kelompokan menjadi berita dalam
negeri tanpa makna. Karena
daerah bencana tersebut
berjauhan dengan kampong halaman kita. Bertetangga dengan seorang
yang alim dan berdekatan dengan
orang bijak, justru membuat kita
tak nyaman dan gelisah. Khawatir
kita menjadi bahan nasehatnya. Dan bagaimana mungkin kita akan
menjadi orang yang besar,
kalaupun besar mungkin hanya
besar kepala. Jika kita tak
mengikuti jalan yang pernah dilalui
oleh orang-orang besar. Mudah-mudahan kita bisa
membenahi diri. Sehingga kita
tidak dipandang oleh manusia
sebagai ular berbisa, harimau
lapar dan buaya darat. Wallahu
a'lam bishawab

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar