Jumat, 30 November 2012

TAFSIR SURAT ALFATIHAH


Surah Al Faatihah 1 بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ (1) Di dalam Alquran ada 114 surah, semuanya dimulai dengan "Basmalah", kecuali surah At-Taubah. Surah At-Taubah ini tidak dimulai dengan "Basmalah" karena memang tidak serasi kalau dimulai dengan "Basmalah". Di samping pada permulaannya "Basmalah" ada disebutkan satu kali di pertengahan surah An-Naml:30; dengan demikian "Basmalah" itu didapati di dalam Alquran 114 kali. Ada beberapa pendapat ulama berkenaan dengan "Basmalah" yang terdapat pada permulaan sesuatu surah. Di antara pendapat-pendapat itu yang termasyhur ialah: 1."Basmalah" itu adalah suatu ayat yang tersendiri, diturunkan Allah untuk jadi kepala masing-masing surah, dan pembatas antara surah dengan surah yang lain. Jadi dia bukanlah satu ayat dari Al-Fatihah atau dari sesuatu surah yang lain, yang dimulai dengan Basmalah itu. Ini adalah pendapat Imam Malik beserta ahli qiraat dan fuqaha Madinah, Basrah dan Syam dan juga pendapat Imam Abu Hanifah dan pengikut-pengikutnya. Sebab itu menurut Imam Abu Hanifah "Basmalah" itu tidak dikeraskan membacanya dalam salat bahkan Imam Malik tidak membaca Basmalah sama sekali. 2."Basmalah" adalah salah satu ayat dari Al-Fatihah, dan dari sesuatu surah yang lain, yang dimulai dengan "Basmalah". Ini adalah pendapat Imam Syafii beserta ahli qiraat Mekah dan Kufah. Sebab itu menurut mereka "Basmalah" itu dibaca dengan suara keras dalam salat (Jahar). Kalau kita perhatikan bahwa sahabat-sahabat Rasulullah saw. telah sependapat menuliskan "Basmalah" pada permulaan sesuatu surah dan surah-surah Alquranul Karim itu, kecuali surah At-Taubah (karena memang dari semula turunnya tidak dimulai dengan Basmalah) dan bahwa Rasulullah saw. melarang menuliskan sesuatu yang bukan Alquran supaya tidak bercampur aduk dengan Alquran. Sebab itu oleh mereka tidak dituliskan "amin" di akhir surah Al-Fatihah. Basmalah itu adalah salah satu ayat dari Alquran atau dengan perkataan lain bahwa "basmalah-basmalah" yang terdapat di dalam Alquran itu adalah ayat-ayat Alquran, lepas dari pendapat apakah satu ayat dari Al-Fatihah atau dari sesuatu surah yang lain, yang dimulai dengan Basmalah atau tidak. Sebagai disebutkan di atas surah Al-Fatihah itu terdiri dari tujuh ayat. Mereka yang berpendapat bahwa basmalah itu tidak termasuk satu ayat dari Al-Fatihah, memandang: غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ adalah salah satu ayat, dengan demikian ayat-ayat Al-Fatihah itu tetap tujuh. بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ (1) "Dengan menyebut nama Allah", maksudnya "dengan menyebut nama Allah saya baca atau saya mulai". Seakan-akan Nabi berkata: "Saya baca surah ini dengan menyebut nama Allah, bukan dengan menyebut nama saya sendiri, sebab dia wahyu dari Tuhan, bukan dari saya sendiri. Maka basmalah di sini mengandung arti bahwa Alquranul Karim itu wahyu dari Allah, bukan karangan Muhammad saw. dan Muhammad itu hanyalah seorang pesuruh Allah yang dapat perintah menyampaikan Alquran kepada manusia. Pemakaian kata "Allah" "Allah" nama bagi Zat yang ada dengan sendiri-Nya (wajibul wujud). Kata "Allah" itu hanya dipakai oleh bangsa Arab kepada Tuhan yang sebenarnya, yang berhak disembah, yang mempunyai sifat-sifat kesempurnaan. Mereka tidak memakai kata itu untuk tuhan-tuhan atau dewa-dewa mereka yang lain. Kata "Ar-Rahman" terambil dari "Ar-Rahmah" yang berarti "belas kasihan", yaitu suatu sifat yang menimbulkan perbuatan memberi nikmat dan karunia. Jadi kata "Ar-Rahman" itu ialah: Yang berbuat (memberi) nikmat dan karunia yang banyak. Kata "Ar-Rahim" juga terambil dari "Ar-Rahmah", dan arti "Rahim" ialah: Orang yang mempunyai sifat belas kasihan, dan sifat itu "tetap" padanya selama-lamanya. Maka Ar-Rahman Ar-Rahim (Arrahmanirrahim) itu maksudnya: Tuhan itu telah memberi nikmat yang banyak dengan murah-Nya dan telah melimpahkan karunia yang tidak terhingga, karena Dia adalah bersifat belas kasihan kepada makhluk-Nya, dan oleh karena sifat belas kasihan itu adalah suatu sifat yang tetap pada-Nya maka nikmat dan karunia Allah itu tidak ada putus-putusnya. Dengan demikian maka kata-kata "Ar-Rahman" dan "Ar-Rahim" itu kedua-duanya adalah diperlukan dalam susunan ini, karena masing-masing mempunyai arti yang khusus. Tegasnya bila seseorang Arab mendengar orang mensifati Allah dengan Ar-Rahman, maka terpahamlah olehnya bahwa Allah itu telah melimpahkan nikmat dan karunia-Nya dengan banyak dan berlimpah-limpah. Tetapi bahwa limpahan nikmat dan karunia yang banyak itu tetap, tidak putus-putus tidak dapat dipahami dari lafaz Ar-Rahman itu saja. Karena itu perlulah diikuti dengan Ar-Rahim, supaya orang mengambil pengertian bahwa limpahan nikmat dan karunia serta kemurahan Allah itu tidak ada putus-putusnya. Hikmah membaca basmalah Seorang muslim disuruh membaca basmalah di waktu mengerjakan sesuatu pekerjaan yang baik. Yang demikian itu untuk mengingatkan bahwa pekerjaan yang dikerjakannya itu adalah suruhan Allah, atau karena telah diizinkan-Nya. Maka karena Allahlah dia mengerjakan pekerjaan itu dan kepada-Nya dia meminta pertolongan supaya pekerjaan itu terlaksana dengan baik dan berhasil. Nabi saw. bersabda: كل أمر ذي بال لايبدأ فيه ببسم الله فهو أبتر أي مقطوع الذنب ناقص Sesuatu pekerjaan yang penting yang tidak dimulai dengan menyebut nama Allah adalah buntung, yakni tidak ada hasilnya. Orang Arab sebelum datang Islam mengerjakan sesuatu pekerjaan adalah dengan menyebut Al-Lata dan Al-`Uzza, yaitu nama-nama berhala mereka. Sebab itu Allah swt. mengajarkan kepada penganut-penganut agama Islam yang telah mengesakan-Nya supaya mereka mengerjakan dengan menyebut nama Allah. 2 Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam,(QS. 1:2] الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ (2) Pada ayat di atas Allah swt. memulai firman-Nya dengan menyebut "Basmalah" untuk mengajarkan kepada hamba-Nya agar memulai sesuatu perbuatan yang baik dengan menyebut basmalah itu, sebagai pernyataan bahwa dia mengerjakan perbuatan itu karena Allah dan kepada-Nyalah dia memohonkan pertolongan dan berkat. Maka pada ayat ini Allah swt. mengajarkan hamba-Nya agar selalu memuji Allah. "Al-Hamdu". الحمد Memuji oleh karena sesuatu nikmat yang diberikan oleh yang dipuji atau karena sesuatu sifat keutamaan yang dimiliki-Nya. Semua nikmat yang telah dirasakan dan didapat di alam ini dari Allah, sebab Dialah yang jadi sumber bagi semua nikmat. Yang mempunyai sifat-sifat kesempurnaan, hanyalah Allah semata. Karena itu Allah sajalah yang berhak dipuji. Ada manusia dipuji orang berhubung jasanya yang banyak atau akhlak dan budi pekertinya yang luhur, tetapi orang memujinya itu pada hakekatnya memuji Tuhan, dengan disengaja atau tidak karena Allahlah yang jadi pangkal bagi semua yang disebut itu. Berhubung nikmat Allah yang sangat banyak, dan berhubung sifat-sifat kesempurnaan yang dipunyai oleh Allah, maka sudah selayaknyalah manusia selalu memuji-Nya. Orang yang menyebut "Alhamdulillah" bukanlah hanya mengakui bahwa puji itu teruntuk bagi Allah semata, bahkan dengan ucapannya itu dia memuji Allah. Dapat juga seseorang memuji Allah dengan sebutan lain, yaitu: الحمد لله tetapi حمدا لله itulah yang dipakaikan Allah di sini, karena susunan semacam itu mengandung arti tetap, yakni dipahamkan di dalamnya bahwa Allah selamanya dipuji, bukan sewaktu-waktu saja. رب arti aslinya: "Yang Empunya" (pemilik) di dalamnya terkandung arti: mendidik, yaitu menyampaikan sesuatu kepada keadaannya yang sempurna dengan berangsur-angsur. "Alamin" artinya "semesta alam", yakni semua jenis alam. Alam itu berjenis-jenis macamnya, yaitu alam tumbuh-tumbuhan, alam binatang, alam manusia, alam benda, alam makhluk yang bertubuh halus umpamanya malaikat, jin dan alam yang lain. Ada ahli tafsir mengkhususkan "Alamin" di ayat ini kepada makhluk-makhluk Allah yang berakal yaitu manusia, malaikat dan jin. Tetapi ini berarti mempersempit arti kata yang sebenarnya amat luas. Dengan demikian Allah itu Pendidik semesta alam tak ada suatu juga dari makhluk Allah itu terjauh dari didikan-Nya. Tuhan mendidik makhluk-Nya dengan seluas arti kata itu. Sebagai pendidik, Dia menumbuhkan, menjaga, memberikan daya (tenaga) dan senjata kepada makhluk itu guna kesempurnaan hidupnya masing-masing. Siapa yang memperhatikan perjalanan bintang-bintang, menyelidiki kehidupan tumbuh-tumbuhan dan binatang di laut dan di darat, mempelajari pertumbuhan manusia sejak dari rahim ibunya, sampai ke masa kanak-kanak lalu menjadi manusia yang sempurna, tahulah dia bahwa tidak ada sesuatu juga dari makhluk Tuhan yang terlepas dari penjagaan, pemeliharaan, asuhan dan inayah-Nya. 3 Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.(QS. 1:3) Surah Al Faatihah 3 الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ (3) Pada ayat dua di atas Allah swt. menerangkan bahwa Dia adalah Tuhan semesta alam. Maka untuk mengingatkan hamba kepada nikmat dan karunia yang berganda-ganda, yang telah dilimpahkan-Nya, serta sifat dan cinta kasih sayang yang abadi pada diri-Nya, diulang-Nya sekali lagi menyebut "Ar-Rahmanir Rahim". Yang demikian itu supaya lenyap dari pikiran mereka gambaran keganasan dan kezaliman seperti raja-raja yang dipertuan, yang bersifat sewenang-wenang. Allah mengingatkan dalam ayat ini bahwa sifat ketuhanan Allah terhadap hambanya bukanlah sifat keganasan dan kezaliman, tetapi berdasarkan cinta dan kasih sayang. Dengan demikian manusia akan mencintai Tuhannya, dan menyembah Allah dengan hati yang aman dan tenteram bebas dari rasa takut dan gelisah. Malah dia akan mengambil pelajaran dari sifat-sifat Tuhan. Dia akan mendasarkan pergaulan dan tingkah lakunya terhadap manusia sesamanya, atau pun terhadap orang yang di bawah pimpinannya, malah terhadap binatang yang tak pandai berbicara sekalipun atas sifat cinta dan kasih sayang itu. Karena dengan jalan demikianlah manusia akan mendapat rahmat dan karunia dari Tuhannya. Rasulullah saw. Bersabda: إنما يرحم الله من عباده الرحماء Artinya: Sesungguhnya Allah kasih sayang kepada hamba-hamba-Nya yang pengasih.(H.R Tabrani) الراحمون يرحمهم الرحمن تبارك و تعالي ارحموا من في الأرض يرحمكم من في السماء Artinya: Orang-orang yang kasih sayang Tuhan yang Rahman Tabaraka wa Taala akan kasih sayang kepadanya. (Oleh karena itu) kasih sayanglah kamu semua kepada semua makhluk yang di bumi niscaya semua makhluk yang di langit akan kasih sayang kepada kamu semua. (H.R Ahmad, Abu Daud At Tarmizi dan Al Hakim) Dan sabda Rasulullah saw: من رحم ولو ذبيحة عصفور رحمه الله يوم القيامة Artinya: Barang siapa (orang) yang kasih sayang meskipun kepada seekor burung (pipit) yang disembelih, Allah kasih sayang kepadanya pada hari kiamat. (H.R Bukhari) Maksud hadis tersebut ialah pada waktu menyembelih burung itu dengan sopan santun umpamanya dengan pisau yang tajam. Dapat pula dipahami dari urutan kata "Ar-Rahman", "Ar-Rahim" itu, bahwa penjagaan, pemeliharaan dan asuhan Tuhan terhadap semesta alam, bukanlah lantaran mengharapkan sesuatu dari alam itu, hanya semata-mata karena rahmat dan belas kasihan daripada-Nya. Boleh jadi ada yang terlintas pada pikiran orang, mengapa Tuhan mengadakan peraturan-peraturan dan hukum-hukum, dan menghukum orang-orang yang melanggar peraturan-peraturan itu? Keragu-raguan ini akan hilang bila diketahui bahwa Allah swt. mengadakan peraturan-peraturan dan hukum-hukum, begitu juga menyediakan azab di akhirat atau di dunia untuk hamba-Nya yang melanggar peraturan-peraturan dan hukum-hukum itu, bukanlah berlawanan dengan sifat Tuhan Yang Maha Pemurah dan Maha Penyayang, karena peraturan dan hukum itu rahmat dari Tuhan; begitu pula azab dari Allah terhadap hamba-Nya yang melanggar peraturan-peraturan dan hukum-hukum itu sesuai dengan keadilan. 4 Yang menguasai hari pembalasan.(QS. 1:4) Surah Al Faatihah 4 مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ (4) Sesudah Allah swt. menyebutkan beberapa sifat-Nya, yaitu: Tuhan semesta alam, Yang Maha Pemurah, Maha Penyayang, maka diiringi-Nya dengan menyebutkan satu sifat-Nya lagi, yaitu menguasai hari pembalasan. "Malik" berarti "Yang Menguasai" Ada dua macam bacaan berkenaan dengan "Malik", pertama dengan memanjangkan "Maa", kedua dengan memendekkannya. Menurut bacaan yang pertama, "Maalik" artinya: Yang memiliki (yang empunya). Sedang menurut bacaan yang kedua, artinya: Raja; kedua-dua bacaan itu dibolehkan. Baik menurut bacaan yang pertama, atau pun bacaan yang kedua, dapat dipahami dari kata itu arti "berkuasa" dan bertindak dengan sepenuhnya. Sebab itulah maka diterjemahkan dengan: "Yang menguasai". "Yaum", (hari) artinya, tetapi yang dimaksud di sini ialah waktu secara mutlak. "Ad-Din" itu banyak artinya, di antaranya: 1.Perhitungan 2.Ganjaran, pembalasan 3.Patuh 4.Menundukkan 5.Syariat, agama Yang selaras di sini ialah dengan arti "pembalasan". Jadi "Maaliki yaumiddin" maksudnya "Tuhan itulah yang berkuasa dan yang dapat bertindak dengan sepenuhnya terhadap semua makhluk-Nya pada hari pembalasan itu". Sebetulnya pada hari kemudian itu banyak hal-hal yang terjadi, yaitu hari kiamat, hari berbangkit, hari berkumpul, hari perhitungan, hari pembalasan, tetapi pembalasan sajalah yang disebut oleh Tuhan di sini, karena itulah yang terpenting. Yang lain dari itu, umpamanya kiamat, berbangkit dan seterusnya, pendahuluan dari pembalasan itu, apalagi untuk targib dan tarhib (menarik dan menakuti) dengan menyebut "hari pembalasan" itulah yang lebih tepat. Hari akhirat menurut pendapat akal (filsafat) Kepercayaan tentang adanya hari akhirat, yang di hari itu akan diadakan perhitungan terhadap perbuatan manusia di masa hidupnya dan diadakan pembalasan yang setimpal, adalah suatu kepercayaan yang sesuai dengan akal. Sebab itu adanya hidup yang lain, sesudah hidup di dunia ini bukanlah saja ditetapkan oleh agama, malah juga ditunjukkan oleh akal. Seseorang yang mau berpikir tentu akan merasa bahwa hidup di dunia ini belumlah sempurna, perlu disambung dengan hidup yang lain. Alangkah banyaknya hidup di dunia ini orang yang teraniaya telah pulang ke rahmatullah sebelum mendapat keadilan. Alangkah banyaknya orang yang berjasa, biar kecil atau besar, belum mendapat penghargaan terhadap jasanya. Alangkah hanyaknya orang yang telah berusaha, memeras keringat dan peluh, membanting tulang tetapi belum sempat lagi merasa buah usahanya itu. Sebaliknya, alangkah banyaknya penjahat-penjahat, penganiaya, pembuat onar yang tak dapat dipegang oleh pengadilan di dunia ini. Lebih-lebih kalau yang melakukan kejahatan atau aniaya itu orang yang berkuasa sebagai raja, pembesar dan lain-lain. Maka biar pun kejahatan dan aniaya itu telah meratai bangsa seluruhnya tiadalah digugat orang, malah dia tetap dipuja dan dihormati. Victor Hugo (1802-1885) pernah menyindir keadaan ini dengan katanya, "Membunuh seorang manusia dalam rimba adalah satu dosa yang tak dapat diampuni, tetapi membunuh suatu bangsa seluruhnya adalah satu soal yang masih dapat dipertimbangkan." Maka di manakah akan didapat gerangan keadilan itu, kalau tidak ada nanti mahkamah yang lebih tinggi, yaitu mahkamah Allah di hari kemudian. Sebab itu ahli-ahli pikir dari zaman dahulu telah ada yang sampai kepada kepercayaan tentang adanya hari akhirat itu, semata-mata dengan jalan berpikir. Antara lain Pythagoras; filosof ini berpendapat bahwa hidup di dunia ini persediaan hidup yang abadi di akhirat kelak. Sebab itu semenjak dari dunia hendaklah orang bersedia untuk hidup yang abadi ini. Socrates, Plato dan Aristoteles, "Jiwa yang baik akan merasai kenikmatan dan kelezatan di akhirat, tetapi bukan kelezatan kebendaan, karena kelezatan kebendaan itu terbatas dan mendatangkan bosan dan jemu. Hanya kelezatan rohani yang bagaimana pun banyak dan lamanya, tiadalah menyebabkan bosan dan jemu." Kepercayaan Bangsa Arab Sebelum Islam tentang hari akhirat Di antara bangsa Arab sebelum datang agama Islam didapati beberapa ahli pikir dan pujangga-pujangga yang telah mempercayai adanya hari kemudian itu. Umpamanya Zuhair bin Abu Sulma yang meninggal dunia setahun sebelum Nabi Muhammad saw. diutus Allah. Pujangga ini pernah berkata yang artinya: Sesuatu pekerti atau perbuatan seseorang yang menurut dugaannya tidak diketahui orang, pasti diketahui juga oleh Tuhan. Sebab itu janganlah disembunyikan kepada Allah sesuatu yang ada pada dirimu, karena bagaimanapun kamu menyembunyikan, niscaya Allah akan mengetahuinya. Dilambatkan membalasnya, maka ditulislah dalam buku disimpan sampai "hari perhitungan", atau disegerakan maka diberi balasan. \s Ada pula di antara mereka yang tidak mempercayai adanya hari kemudian itu. Dengarlah apa yang dikatakan oleh salah seorang penyair mereka: "Hidup, sudah itu mati, sudah itu dibangkit lagi, itulah cerita dongeng hai fulan". Karena itu, datanglah agama Islam membawa kepastian tentang adanya hari kemudian. Di hari akan dihisab semua perbuatan yang telah dikerjakan manusia selama hidupnya biar pun besar atau kecil. Allah swt. berfirman; Artinya: Barang siapa yang mengerjakan kebaikan seberat zarrah pun niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barang siapa mengerjakan kejahatan seberat zarah pun niscaya akan melihat (balasan)nya pula. (Q.S Az Zalzalah: 7-8) 5 Hanya Engkaulah yang kami sembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan.(QS. 1:5) Surah Al Faatihah 5 إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ (5) Di dalam ayat-ayat yang telah disebutkan empat macam dari sifat-sifat Tuhan, yaitu: Pendidik semesta alam Maha Pemurah Maha Penyayang Dan Yang menguasai hari pembalasan. Sifat-sifat yang disebutkan itu adalah sifat-sifat kesempurnaan yang hanya Allah sajalah yang mempunyainya. Sebab itu pada ayat ini Allah mengajarkan kepada hamba-Nya bahwa Allah sajalah yang patut disembah, dan kepada-Nya sajalah seharusnya manusia memohonkan pertolongan, dan bahwa hamba-Nya haruslah mengikrarkan yang demikian itu. "Iyyaka" (hanya kepada Engkaulah). Susunan ayat-ayat ini membawa pengertian "pengkhususan" yaitu pengkhususan "ibadah" kepada Allah. Jadi arti ayat ini: "Kepada Engkau sajalah kami tunduk dan berhina diri, dan kepada Engkau sajalah kami memohonkan suatu pertolongan". Pertolongan yang khusus dimohonkan kepada Allah ialah tentang sesuatu yang di luar kemampuan dan kekuasaan manusia. "Iyyaka" dalam ayat ini diulang dua kali, gunanya untuk menegaskan bahwa ibadat dan isti`anah itu masing-masing khusus dihadapkan kepada Allah. Selain dari itu untuk dapat mencapai kelezatan munajat (berbicara) dengan Allah. Karena bagi seorang hamba Allah yang menyembah dengan segenap jiwa dan raganya tak ada yang lebih nikmat dan lezat pada perasaannya daripada bermunajat dengan Allah. Baik juga diketahui bahwa dengan memakai "Iyyaka" itu berarti menghadapkan pembicaraan kepada Allah, dengan maksud menghadirkan Allah swt. dalam ingatan, seakan-akan Dia berada di muka kita, dan kepada-Nya dihadapkan pembicaraan dengan khusyuk dan tawaduk. Seakan-akan kita berkata: "Ya Allah, Zat yang wajibul wujud. Yang bersifat dengan segala sifat kesempurnaan. Yang menjaga dan memelihara semesta alam. Yang melimpahkan rahmat dan karunia-Nya dengan berlipat ganda. Yang berkuasa di hari pembalasan. Engkau sajalah yang kami sembah, dan kepada Engkau sajalah kami meminta pertolongan. Karena hanya Engkau yang berhak disembah dan hanya Engkau yang dapat menolong kami". Dengan cara yang seperti itu orang akan lebih khusyuk di dalam menyembah Allah dan lebih tergambar kepadanya kebesaran Yang disembahnya itu. Inilah yang dimaksud oleh Rasulullah saw. dengan sabdanya: أن تعبد الله كأنك تراه Artinya: Hendaklah engkau menyembah Allah itu seakan-akan engkau melihat-Nya. (H.R Bukhari dan Muslim dari Umar bin Khattab) Karena surah Al-Fatihah mengandung ayat munajat (berbicara) dengan Allah menurut cara yang diterangkan merupakan rahasia diwajibkan membacanya tiap-tiap rakaat dalam salat, karena itu jiwanya ialah munajat dengan menghadapkan diri dan memusatkan ingatan kepada Allah. "Na'budu" pada ayat ini didahulukan menyebutkannya dari "nasta`iinu", karena menyembah Allah itu adalah suatu kewajiban manusia terhadap Tuhannya. Tetapi pertolongan dari Tuhan kepada seseorang hamba-Nya adalah hak hamba itu. Maka seakan-akan Tuhan mengajar hamba-Nya supaya menunaikan kewajibannya lebih dahulu, sebelum ia menuntut haknya. Melihat kata-kata "na`budu" dan "nasta`iinu" (kami menyembah, kami minta tolong), bukan a`budu" dan "asta`iinu" (saya menyembah dan saya minta tolong) adalah untuk memperlihatkan kelemahan manusia itu, dan tidak selayaknya mengemukakan dirinya seorang saja dalam menyembah dan memohon pertolongan kepada Allah, seakan-akan penunaian kewajiban beribadat dan permohonan pertolongan kepada Allah itu belum lagi sempurna kecuali kalau dikerjakan dengan bersama-sama. Kedudukan tauhid di dalam ibadat dan sebaliknya Arti "ibadat" sebagai disebutkan di atas ialah tunduk dan berhina diri kepada Allah, yang disebabkan oleh kesadaran bahwa Allah yang menciptakan alam ini, Yang menumbuhkan, Yang mengembangkan, Yang menjaga dan memelihara serta Yang membawanya dari suatu keadaan kepada keadaan yang lain hingga tercapai kesempurnaannya. Tegasnya ibadat itu timbulnya dari perasaan tauhid, maka orang yang suka memikirkan keadaan alam ini, yang memperhatikan perjalanan bintang-bintang, kehidupan tumbuh-tumbuhan, binatang dan manusia, bahkan yang mau memperhatikan dirinya sendiri, yakinlah dia bahwa di balik alam yang zahir ada Zat yang gaib yang mengendalikan alam ini, yang bersifat dengan segala sifat kesempurnaan, yakni Dialah Yang Maha Kuasa, Maha Pengasih, Maha Mengetahui dan sebagainya. Maka tumbuhlah dalam sanubarinya perasaan bersyukur dan berutang budi kepada Zat Yang Maha Kuasa, Maha Pengasih dan Maha Mengetahui itu. Perasaan inilah yang menggerakkan bibirnya untuk menuturkan puji-pujian, dan yang mendorong jiwa dan raganya untuk menyembah dan berhina diri kepada Allah Yang Maha Kuasa itu sebagai pernyataan bersyukur dan membalas budi kepada-Nya. Tetapi ada juga manusia yang tidak mau berpikir, dan selanjutnya tidak sadar akan kebesaran dan kekuasaan Tuhan, sering melupakan-Nya, sebab itulah maka tiap-tiap agama disyariatkan bermacam-macam ibadat, gunanya untuk mengingatkan manusia kepada kebesaran dan kekuasaan Allah itu. Dengan keterangan ini kelihatanlah bahwa tauhid dan ibadat itu pengaruh-mempengaruhi dengan arti tauhid menumbuhkan ibadat dan ibadat memupuk tauhid. Pengaruh ibadat terhadap jiwa manusia Tiap-tiap ibadat yang dikerjakan karena didorong oleh perasaan yang disebutkan itu, niscaya ada kesannya kepada tabiat dan budi pekerti orang yang beribadat itu. Umpamanya orang yang mendirikan salat karena sadar akan kebesaran dan kekuasaan Allah, dan didorong oleh perasaan bersyukur dan berutang budi kepada-Nya, akan terjauhlah dia dari perbuatan-perbuatan yang tidak baik, yang dilarang Allah. Dengan demikian salatnya itu akan mencegahnya dari mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak baik itu, sesuai dengan firman Allah swt.: إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ Artinya: Sesungguhnya salat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar. (Q.S Al Ankabut: 45) Begitu juga ibadat puasa. Ibadat ini akan menimbulkan perasaan cinta dan kasih sayang terhadap orang-orang yang melarat dan miskin pada diri orang yang berpuasa itu. Dan seterusnya dengan ibadat-ibadat yang lain. Tetapi ibadat yang bukan ditimbulkan oleh keyakinan kepada kebesaran dan kekuasaan Allah, dan bukan pula didorong oleh perasaan bersyukur dan berutang budi kepada Allah itu, hanya karena turut-turutan, atau karena memelihara tradisi yang sudah turun-temurun, bukanlah ibadat yang sebenarnya, dan kendatipun dia mempunyai rupa dan bentuk ibadat, tetapi tidak ada mempunyai jiwa ibadat itu, tak ubahnya dengan gambar atau patung, bagaimana pun juga miripnya dengan manusia, tidaklah dinamai manusia. Selanjutnya ibadat yang semacam itu tidak ada kesan dan buahnya kepada tabiat dan akhlak orang yang beribadat itu. Berusaha berdoa dan bertawakal "Isti`anah" (memohon pertolongan) sebagai disebutkan di atas khusus dihadapkan kepada Allah, dengan arti bahwa tidak ada yang berhak dimohonkan pertolongannya kecuali Allah. Dalam pada itu, pada ayat yang lain Allah menyuruh manusia bertolong-tolongan dalam mengerjakan kebaikan. Allah berfirman: وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى Artinya: Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebaikan dan takwa. (Q.S Al Ma'idah: 2) Adakah pertentangan antara dua ayat itu? Tidak Tercapainya sesuatu maksud, atau terlaksananya suatu pekerjaan dengan baik adalah tergantung kepada cukupnya syarat-syarat yang dibutuhkan dalam melaksanakan pekerjaan itu, dan tidak adanya rintangan-rintangan yang akan menghalanginya. Manusia telah diberi Allah tenaga, baik yang berupa pikiran maupun yang berupa kekuatan tubuh, untuk dipakai guna mencukupkan syarat-syarat, atau menolak rintangan-rintangan dalam menuju suatu maksud, atau mengerjakan sesuatu pekerjaan. Tetapi ada di antara syarat-syarat itu yang tidak kuasa manusia mencukupkannya, sebagaimana di antara rintangan itu ada yang di luar kekuasaan manusia menolaknya. Begitu pula ada di antara syarat-syarat itu atau di antara halangan-halangan itu yang tidak dapat diketahui. Maka kendatipun menurut pikirannya dia telah mencukupkan semua syarat-syarat yang diperlukan, dan telah menjauhkan semua rintangan-rintangan yang menghalangi, tetapi hasil pekerjaannya itu belum lagi sebagai yang dicita-citakannya. Jadi ada hal-hal yang tidak masuk dalam batas kekuasaan dan kemampuan manusia. Itulah yang dimintakan pertolongan khusus kepada Allah. Sebaiknya tentang sesuatu yang termasuk dalam batas kekuasaan dan kemampuan manusia, dia disuruh bertolong-tolongan, supaya tenaga menjadi kuat, dan agar ada pada masing-masing manusia sifat cinta-mencintai, harga-menghargai, dan gotong-royong. Dengan perkataan lain, manusia disuruh Allah berusaha dengan sekuat tenaga, dan disuruh tolong-menolong, bantu-membantu. Di samping menjalankan ikhtiar dan usahanya itu, dia harus pula berdoa, memohon taufik, hidayah dan ma`unah. Ini hendaknya dimohonkannya khusus kepada Allah, karena hanyalah Dia yang kuasa memberinya. Sesudah itu semua, barulah dia bertawakal kepada-Nya. Ibadat itu sendiri pun sesuatu pekerjaan yang berat, sebab itu haruslah dimintakan ma`unah dari Allah supaya semua ibadat terlaksana sebagai yang dimaksud oleh agama. Maka seseorang menuturkan bahwa hanya kepada Allahlah kita beribadat, diikuti lagi dengan pernyataan bahwa kepada-Nya saja minta pertolongan, terutama pertolongan agar amal ibadat terlaksana sebagaimana mestinya. Ayat di atas, sebagai telah disebutkan, mengandung tauhid, karena beribadat semata-mata kepada Allah dan meminta ma`unah khusus kepada-Nya, adalah intisari agama, dan kesempurnaan tauhid. 6 Tunjukilah kami jalan yang lurus,(QS. 1:6) Surah Al Faatihah 6 اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ (6) "Ihdi": Pimpinlah, tunjukilah, berilah hidayah Arti "hidayah" ialah: Menunjukkan sesuatu jalan atau cara menyampaikan orang kepada orang yang ditujunya dengan baik. Macam-macam hidayah petunjuk) Allah telah memberi manusia bermacam-macam hidayah, yaitu: 1. Hidayah naluri (garizah) Manusia begitu juga binatang-binatang, dilengkapi oleh Allah dengan bermacam-macam sifat, yang timbulnya bukanlah dari pelajaran, bukan pula dari pengalaman, melainkan telah dibawanya dari kandungan ibunya. Sifat-sifat ini namanya "naluri", dalam bahasa Arab disebut "garizah". Umpamanya, naluri "ingin memelihara diri" (mempertahankan hidup). Kelihatan oleh kita seorang bayi bila merasa lapar dia menangis. Sesudah terasa di bibirnya mata susu ibunya, dihisapnyalah sampai hilang laparnya. Perbuatan ini dikerjakannya tak seorang juga yang mengajarkan kepadanya, bukan pula timbul dari pengalamannya, hanyalah semata-mata ilham dan petunjuk dari Allah kepadanya untuk mempertahankan hidupnya. Kelihatan pula oleh kita lebah membuat sarangnya, laba-laba membuat jaringnya, semut membuat lobangnya dan menimbun makanan dalam lubang itu. Semua itu dikerjakan oleh binatang-binatang tersebut ialah untuk mempertahankan hidupnya dan memelihara dirinya masing-masing dengan dorongan nalurinya semata-mata. Banyak lagi naluri yang lain, umpamanya garizah ingin tahu, ingin mempunyai, ingin berlomba-lomba, ingin bermain, ingin meniru, takut dan lain-lain. Sifat-sifat garizah Garizah-garizah itu sebagai disebutkan terdapat pada manusia dan binatang, hanya perbedaannya ialah garizah manusia bisa menerima pendidikan dan perbaikan, tetapi garizah binatang tidak, sebab itulah manusia bisa maju tetapi binatang tidak, hanya tetap seperti sediakala. Garizah-garizah itu adalah dasar bagi kebaikan sebagaimana dia pun juga dasar bagi kejahatan. Umpamanya karena garizah ingin memelihara diri, orang berusaha, berniaga, bertani, artinya mencari nafkah secara halal. Tetapi karena garizah "ingin memelihara diri" itu pulalah orang mencuri, menipu, merampok dan lain-lain. Karena garizah "ingin tahu" pulalah orang suka mencari-cari aib dan rahasia sesamanya, yang mengakibatkan permusuhan dan persengketaan. Demikianlah seterusnya dengan garizah-garizah yang lain. Garizah-garizah itu tidak dapat dihilangkan dan tidak ada faedahnya membunuhnya. Ada ahli pikir dan pendidik yang hendak memadamkan garizah karena melihat seginya yang tidak baik (jahat) itu, sebab itu diadakan oleh mereka macam-macam peraturan untuk mengikat kemerdekaan anak-anak supaya garizah itu jangan tumbuh, atau mana yang telah tumbuh menjadi mati. Tetapi perbuatan mereka itu besar bahayanya terhadap pertumbuhan akal, tubuh dan akhlak anak-anak. Dan bagaimanapun orang berusaha hendak membunuh garizah itu, namun ia tidak akan mati. Boleh jadi karena kerasnya tekanan dan kuatnya rintangan terhadap sesuatu garizah, maka kelihatan dia telah padam tetapi manakala ada yang membangkitkannya, timbullah dia kembali. Oleh karena itu kendatipun garizah itu dasar bagi kebaikan, sebagaimana dia juga dasar bagi kejahatan, tetapi kewajiban manusia bukanlah menghilangkannya, hanya mendidik dan melatihnya, supaya dapat dimanfaatkan dan disalurkan ke arah yang baik. Allah telah menganugerahkan kepada manusia bermacam-macam garizah untuk jadi hidayah (petunjuk) yang akan dipakai dengan cara bijaksana oleh manusia itu. 2. Hidayah Pancaindra Karena garizah itu sifatnya belum pasti sebagai disebutkan di atas, maka ia belum cukup untuk jadi hidayah bagi kebahagiaan hidup manusia di dunia dan di akhirat. Sebab itu oleh Allah swt. manusia dilengkapi lagi dengan pancaindra. Pancaindra itu sangat besar harganya terhadap pertumbuhan akal dan pikiran manusia, sebab itu ahli-ahli pendidikan berkata: الحواس أبواب المعرفة Artinya: Pancaindra itu adalah pintu-pintu pengetahuan. Maksudnya ialah dengan jalan pancaindra itulah manusia dapat berhubungan dengan alam yang di luar, dengan arti bahwa sampainya sesuatu dari alam yang di luar ini ke dalam otak manusia adalah pintu-pintu pancaindra itu. Tetapi garizah ditambah dengan pancaindra, juga belum cukup lagi untuk jadi pokok-pokok kebahagiaan manusia. Banyak lagi benda-benda dalam alam ini yang tidak dapat dilihat oleh mata. Banyak macam suara yang tidak dapat didengar oleh telinga. Malah selain dari alam mahsusat (yang dapat ditangkap oleh pancaindra), ada lagi alam ma'qulat (yang hanya dapat ditangkap oleh akal). Selain dari pancaindra itu hanya dapat menangkap alam mahsusat, tangkapannya tentang yang mahsusat itupun tidak selamanya betul, kadang-kadang salah. Inilah yang dinamakan dalam ilmu jiwa "illusi optik" (tiupan pandangan), dalam bahasa Arab disebut, "khida'an nazar". Sebab itu manusia membutuhkan lagi hidayah yang kedua itu. Maka dianugerahkan lagi oleh Allah hidayah yang ketiga, yaitu "hidayah akal". 3. Hidayah akal (pikiran) a. Akal dan kadar kesanggupannya Dengan adanya akal itu dapatlah manusia menyalurkan garizah ke arah yang baik agar garizah itu menjadi pokok bagi kebaikan, dan dapatlah manusia membetulkan kesalahan-kesalahan pancaindranya, membedakan buruk dengan baik. Malah sangguplah dia menyusun mukadimah untuk menyampaikannya kepada natijah, mempertalikan akibat dengan sebab, memakai yang mahsusat sebagai tangga kepada yang ma'qulat, mempergunakan yang dapat dilihat, diraba dan dirasai untuk menyampaikannya kepada yang abstrak, maknawi dan gaib, mengambil dalil dari adanya makhluk untuk adanya khalik, dan begitulah seterusnya. Tetapi akal manusia juga belum lagi memadai untuk membawanya kepada kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat di samping berbagai macam garizah dan pancaindra itu. Apalagi pendapat akal itu bermacam-macam, yang baik menurut pikiran si A belum tentu baik menurut pandangan si B, malah banyak manusia yang masih mempergunakan akalnya, atau akalnya dikalahkan oleh hawa nafsu dan sentimennya. Hingga yang buruk itu menjadi baik dalam pandangannya dan yang baik itu menjadi buruk. Dengan demikian nyatalah bahwa garizah ditambah dengan pancaindra ditambah pula dengan akal belum lagi cukup untuk menjadi hidayah yang akan menyampaikan manusia kepada kebahagiaan hidup jasmani dan rohani, di dunia dan akhirat. Oleh karena itu manusia membutuhkan suatu hidayah lagi, di samping pancaindra dan akalnya itu, yaitu hidayah agama yang dibawa oleh para rasul `alaihimus shalatu wassalam. b. Bibit agama dan akidah tauhid pada jiwa manusia Dalam pada itu kalau diperhatikan agama-agama dan kepercayaan-kepercayaan yang diciptakan oleh manusia (Al-Adyan Al-Wad'iyyah) kelihatan pada jiwa manusia telah ada bibit-bibit suka beragama. Yang demikian itu karena manusia itu mempunyai sifat merasa berhutang budi suka berterima kasih dan membalas budi kepada orang yang berbuat baik kepadanya. Maka di kala diperhatikan dirinya dan alam yang di sekelilingnya, umpamanya roti yang dimakannya, tumbuh-tumbuhan yang ditanamnya, binatang ternak yang digembalakannya, matahari yang memancarkan sinarnya, hujan yang turun dari langit yang menumbuhkan tanam-tanaman, akan merasa berutang budilah dia kepada "suatu Zat" yang gaib yang telah berbuat baik dan melimpahkan nikmat yang besar itu kepadanya. Didapatnyalah dengan akalnya bahwa Zat yang gaib itulah yang menciptakannya, yang menganugerahkan kepadanya dan kepada jenis manusia seluruhnya, segala sesuatu yang ada di alam ini, segala sesuatu yang dibutuhkannya untuk memelihara diri dan mempertahankan hidupnya. Karena dia merasa berutang budi kepada suatu Zat Yang Gaib itu, maka dipikirkannyalah bagaimana cara berterima kasih dan membalas budi itu, atau dengan perkataan lain bagaimana cara "menyembah Zat Yang Gaib itu". Akan tetapi masalah bagaimana cara menyembah Zat Yang Gaib itu, adalah suatu masalah yang sukar, yang tidak dapat dicapai oleh akal manusia. Sebab itu di dalam sejarah kelihatan bahwa tidak pernah adanya keseragaman dalam hal ini. Bahkan akal pikirannya akan membawanya kepada kepercayaan membesarkan alam di samping membesarkan Zat Yang Gaib itu. Karena pikirannya masih bersahaja dan karena belum dapat dia menggambarkan di otaknya bagaimana menyembah "Zat Yang Gaib", maka dipilihlah di antara alam ini sesuatu yang besar, atau yang indah, atau yang banyak manfaatnya, atau sesuatu yang ditakutinya untuk jadi pelambang bagi Zat Yang Gaib itu. Pernah dia mengagumi matahari, bulan dan bintang-bintang, atau sungai-sungai, binatang dan lain-lain, maka disembahnyalah benda-benda itu, sebagai lambang bagi menyembah Tuhan atau Zat Yang Gaib itu, dan diciptakannyalah cara-cara beribadah (menyembah) benda-benda itu. Dengan ini timbullah pula suatu macam kepercayaan, yang dinamakan "Kepercayaan menyembah kekuatan alam", sebagai yang terdapat di Mesir, Kaldania, Babilonia, Assyiria dan di tempat-tempat lain di zaman purbakala. Dengan keterangan itu kelihatanlah bahwa manusia menurut fitrahnya suka beragama, suka memikirkan dari mana datangnya alam ini, dan ke manakah kembalinya. Bila dia memikirkan dari mana datangnya alam ini, akan sampailah dia pada keyakinan tentang adanya Tuhan, bahkan akan sampailah dia kepada keyakinan tentang keesaan Tuhan itu (tauhid), karena akidah (keyakinan) tentang keesaan inilah yang lebih mudah, dan lebih lekas dipahami oleh akal manusia. Karena itu dapatlah kita tegaskan bahwa manusia itu menurut nalurinya adalah beragama tauhid. Sejarah telah menerangkan bahwa bangsa Kaldania pada mulanya adalah beragama tauhid, barulah kemudian mereka menyembah matahari, planet- planet dan bintang-bintang yang mereka simbolkan dengan patung-patung. Sesudah Raja Namruz meninggal, mereka pun mendewakan dan menyembah Namruz itu. Bangsa Assyiria pun pada asalnya beragama tauhid, kemudian mereka telah lupa kepada akidah tauhid itu dan mereka persekutukanlah Tuhan dengan binatang-binatang, dan inilah yang dipusakai oleh orang-orang Babilonia. Adapun bangsa Mesir, maka bila diperhatikan nyanyian-nyanyian yang mereka nyanyikan dalam upacara-upacara peribadatan, jelaslah bahwa bukan seluruh bangsa Mesir purbakala itu orang-orang musyrik dan wasani, melainkan di antara mereka juga ada orang-orang muwahhidin, penganut akidah tauhid. Di dalam nyanyian-nyanyian itu terdapat ungkapan berikut: "Dialah Tuhan Yang Maha Esa, yang tiada sekutu bagi-Nya" "Dia mencintai seluruh makhluk, sedang dia sendiri tak ada yang menciptakan-Nya" "Dialah Tuhan Yang Maha Agung, Pemilik langit dan bumi dan pencipta seluruh makhluk" Umat manusia yang dengan akalnya itu telah sampai kepada akidah tauhid. Akidah tauhid ini sering menjadi kabur, atau tidak murni lagi, dan jadilah mempersekutukan Tuhan yang menonjol di antara mereka. Biar pun pendeta-pendeta mereka masih tetap dalam ketauhidannya, akan tetapi pendeta-pendeta ini kadang-kadang takut atau segan untuk memberantas kepercayaan mempersekutukan Tuhan itu, bahkan ikut hanyut dalam arus masyarakat, yakni arus mempersekutukan Tuhan. Dapat ditegaskan bahwa akidah tauhid ini tidak pernah lenyap sama sekali, melainkan kepercayaan kepada adanya suatu Zat Yang Maha Esa itu tetap ada. Dialah Pencipta seluruh yang ada ini. Tuhan-tuhan atau dewa-dewa yang lain itu mereka anggap hanyalah sebagai pembantu dan pelayan atau simbol Yang Maha Esa itu. c. Pendapat Bangsa Arab sebelum Islam tentang Khalik (Pencipta) Bangsa Arab sendiri pun sebelum datang agama Islam, kalau ditanyakan kepada mereka, "Siapakah yang menjadikan langit dan bumi ini?" Mereka menjawab, "Allah." Dan kalau ditanyakan, "Adakah Al-Lata dan Al-Uzza itu menjadikan sesuatu yang ada alam ini"? Mereka menjawab, "Tidak." Mereka sembah dewa-dewa itu hanya untuk mengharapkan perantaraan dan syafaat dari mereka terhadap Tuhan yang sebenarnya. Allah swt. berfirman menceritakan perkataan musyrikin Arab itu: مَا نَعْبُدُهُمْ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَى Artinya: Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan (kedudukan) kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya. (Q.S Az Zumar: 3) d. Kepercayaan tentang akhirat bisa dicapai oleh akal Manakala manusia itu memikirkan ke manakah kembalinya alam ini, akan sampailah dia pada keyakinan bahwa di balik hidup di dunia yang fana ini akan ada lagi hidup di hari kemudian yang kekal dan abadi. Tetapi dapatkah manusia dengan akal dan pikirannya semata-mata mengetahui apakah yang perlu dikerjakan atau dijauhinya sebagai persiapan untuk kebahagiaan di hari kemudian (hari akhirat) itu? Jawabnya tentu saja tidak, sejarah pun telah membuktikan hal ini. Dengan demikian dapatlah disimpulkan bahwa manusia telah diberi Allah akal untuk jadi hidayah baginya, di samping garizah dan pancaindra. Tetapi hidayah akal itu belumlah mencukupi untuk kebahagiaan hidupnya di dunia dan akhirat. Begitu juga manusia mempunyai tabiat suka beragama, dan dengan akalnya dia kadang-kadang telah sampai kepada tauhid. Akan tetapi tauhid yang telah dicapainya dengan akalnya itu sering pula menjadi kabur dan tidak murni lagi. Dalam pada itu manusia dengan mempergunakan akalnya juga dapat sampai kepada kesimpulan tentang adanya akhirat, akan tetapi hidayah akal itu belumlah mencukupi untuk kebahagiaan hidupnya di dunia dan akhirat. Maka untuk menyampaikan manusia kepada akidah tauhid yang murni, yang tidak dicampuri sedikit juga oleh kepercayaan-kepercayaan menyembah dan membesarkan selain Allah, dan untuk membentangkan jalan yang benar yang akan ditempuhnya dalam perjalanan mencari kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat dan untuk jadi pedoman bagi hidupnya di dunia ini, dia membutuhkan hidayah yang lain di samping hidayah-hidayah yang telah disebutkan itu. Maka didatangkanlah oleh Allah hidayah yang keempat yaitu "agama" yang dibawa oleh para rasul. 4. Hidayah agama a. Pokok-pokok agama ketuhanan Karena hal-hal yang disebutkan itu, maka diutuslah oleh Allah rasul-rasul untuk membawa agama yang akan menunjukkan kepada manusia jalan yang harus mereka tempuh untuk kebahagiaan mereka dunia dan akhirat. Adalah yang mula-mula ditanamkan oleh rasul-rasul itu kepercayaan tentang adanya Tuhan Yang Maha Esa dengan segala sifat-sifat kesempurnaan-Nya, guna membersihkan iktikad manusia dari kotoran syirik (mempersekutukan Tuhan). Rasul membawa manusia kepada kepercayaan tauhid itu dengan melalui akal dan logika, yaitu dengan mempergunakan dalil-dalil yang tepat dan logis. (Ingatlah kepada soal-jawab antara Nabi Ibrahim dengan Namruz, Nabi Musa dengan Firaun, dan seruan-seruan Alquran kepada kaum musyrikin Quraisy agar mereka mempergunakan akal). Di samping kepercayaan kepada adanya Tuhan Yang Maha Esa, rasul-rasul juga membawa kepercayaan tentang akhirat dan malaikat-malaikat. Percaya kepada adanya Tuhan Yang Maha Esa dengan segala sifat-sifat kesempurnaan-Nya, serta adanya malaikat dan hari kemudian itu, itulah yang dinamakan Al-Iman bil Gaib (percaya kepada yang gaib). Dan itulah yang jadi pokok bagi semua agama Ketuhanan, dengan arti bahwa semua agama yang datangnya dari Tuhan mempercayai keesaan Tuhan, serta malaikat dan hari akhirat. Di samping `aqaid (kepercayaan-kepercayaan) yang disebutkan itu, rasul-rasul juga membawa hukum-hukum, peraturan-peraturan, akhlak dan pelajaran-pelajaran. Hukum-hukum dan peraturan-peraturan ini berlain-lainan, artinya apa yang diturunkan kepada Nabi Ibrahim tidak sama dengan yang diturunkan kepada Nabi Musa, dan apa yang dibawa oleh Nabi Isa tidak serupa dengan yang dibawa oleh Nabi Muhammad saw. Sebabnya ialah karena hukum-hukum dan peraturan-peraturan itu haruslah sesuai dengan keadaan tempat dan masa. Maka syariat yang dibawa oleh nabi-nabi itu adalah sesuai dengan masanya masing-masing. Jadi yang berlain-lainan itu ialah hukum-hukum furu` (cabang-cabang), sedangkan pokok-pokok hukum agama seperti akidah adalah sama. Berhubung Muhammad saw. adalah seorang nabi penutup maka syariat yang dibawanya, diberi oleh Tuhan sifat-sifat tertentu agar sesuai dengan segala masa dan keadaan. b. Hidayah yang dimohonkan kepada Tuhan Agama Islam sebagai hidayah dan senjata hidup yang penghabisan, atau jalan kebahagiaan yang terakhir, telah dianugerahkan Tuhan, tetapi adakah orang pandai mempergunakan senjata itu, dan adakah semua hamba Allah sukses dalam menempuh jalan yang dibentangkan oleh Tuhan. Tidak banyak manusia yang pandai menerapkan agama, beribadat (menyembah Allah) sebagai yang diridai oleh yang disembah, bahkan pelaksanaan syariat tidak sesuai dengan yang dimaksud oleh Pembuat syariat itu. Karena itu kita diajari Allah memohonkan kepada-Nya agar diberi-Nya ma`unah, dibimbing dan dijaga-Nya selama-lamanya serta diberi-Nya taufik agar dapat memakai semua macam hidayah yang telah dianugerahkan-Nya itu menurut semestinya. Garizah-garizah supaya dapat disalurkan ke arah yang baik, pancaindra supaya berfungsi betul, akal supaya sesuai dengan yang benar, tuntunan-tuntunan agama agar dapat dilaksanakan menurut yang dimaksud oleh yang menurunkan agama itu dengan tidak ada cacat, janggal dan salah. Tegasnya manusia yang telah diberi Tuhan bermacam-macam hidayah yang disebutkan di atas (garizah-garizah, pancaindra, akal dan agama) belum dapat mencukupkan semata-mata hidayah-hidayah itu saja, tetapi dia masih membutuhkan ma`unah dan bimbingan dari Allah (yaitu taufik-Nya). Maka ma`unah dan bimbingan itulah yang kita mohonkan dan kepada Allah sajalah kita hadapkan permohonan itu. Dengan perkataan lain, Allah telah memberi kita hidayah-hidayah tersebut, tak ubahnya seakan-akan Dia telah membentangkan di muka kita jalan raya yang menyampaikan kepada kebahagiaan hidup duniawi dan ukhrawi, maka yang dimohonkan kepada-Nya lagi ialah "membimbing kita dalam menjalani jalan yang telah terbentang itu". Dengan ringkas hidayah dalam ayat "ihdinassiratal mustaqim" ini berarti "taufik" (bimbingan), dan taufik itulah yang dimohonkan di sini kepada Allah. Taufik ini dimohonkan kepada Allah sesudah kita berusaha dengan sepenuh tenaga, pikiran dan ikhtiar, karena berusaha dengan sepenuh tenaga adalah kewajiban kita, tetapi sampai berhasil sesuatu usaha adalah termasuk kekuasaan Allah. Dengan ini kelihatanlah pertalian ayat ini dengan ayat yang sebelumnya. Ayat yang sebelumnya Allah mengajari hamba-Nya supaya menyembah memohonkan pertolongan kepada-Nya, sedangkan pada ayat ini Allah menerangkan apa yang akan dimohonkan, dan bagaimana memohonkannya. Maka tak ada pertentangan antara kedua firman Allah tersebut dan firman Allah yang ditujukan kepada Nabi yang berbunyi: وَإِنَّكَ لَتَهْدِي إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ Artinya: Dan sesungguhnya kamu benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus. (Q.S Asy Syura: 52) Dan firman-Nya: إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ Artinya: Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi tetapi Allahlah yang dapat memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya. (Q.S Al Qasas: 56) Sebab yang dimaksud dengan hidayah pada ayat pertama, ialah menunjukkan jalan yang harus ditempuh, dan ini memang adalah tugas nabi. Tetapi yang dimaksud dengan hidayah pada ayat kedua ialah membimbing manusia dalam menempuh jalan itu dan memberikan taufik agar sukses dan berbahagia dalam perjalanannya, dan ini tidaklah masuk dalam kekuasaan Nabi, hanya adalah hak Allah semata-mata. الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ (6) Artinya: Jalan yang lurus (yang menyampaikan kepada yang dituju). (Q.S Al Fatihah: 6) Apakah yang dimaksud dengan jalan lurus itu? Di atas telah diterangkan bahwa rasul-rasul telah membawa `aqaid (kepercayaan-kepercayaan) hukum-hukum, peraturan-peraturan, akhlak, dan pelajaran-pelajaran. Pendeknya telah membawa segala sesuatu yang perlu untuk kebahagiaan hidup manusia di dunia dan akhirat. Maka aqaid, hukum-hukum, peraturan-peraturan, akhlak dan pelajaran-pelajaran itulah yang dimaksud dengan jalan lurus itu, karena dialah yang menyampaikan manusia kepada kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat sebagai disebutkan. Jadi dengan menyebut ayat ini seakan-akan kita memohon kepada Tuhan: "Bimbing dan beri taufiklah kami, ya Allah dalam melaksanakan ajaran-ajaran agama kami. Betulkanlah kepercayaan kami. Bimbing dan beri taufiklah kami dalam melaksanakan kepercayaan kami. Bimbing dan beri taufiklah kami dalam melaksanakan hukum, peraturan-peraturan, serta pelajaran-pelajaran agama kami. Jadikanlah kami mempunyai akhlak yang mulia, agar berbahagia hidup kami di dunia dan akhirat". 7 (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.(QS. 1:7) Surah Al Faatihah 7 صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ (7) Setelah Allah swt. mengajarkan kepada hamba-Nya untuk memohonkan kepada Allah agar selalu dibimbing-Nya menuju jalan yang lurus dan benar, maka pada ayat ini Tuhan menerangkan apa jalan yang lurus itu. Sebelum Alquranul Karim diturunkan, Tuhan telah menurunkan kitab-kitab suci-Nya yang lain, dan sebelum Nabi Muhammad diutus Allah telah mengutus rasul-rasul, karena sebelum umat yang sekarang ini telah banyak umat terdahulu. Di antara umat-umat yang terdahulu itu terdapat nabi-nabi, siddiqin yang membenarkan rasul-rasul dengan jujur dan patuh, syuhada yang telah mengorbankan jiwa dan harta untuk kemuliaan agama Allah, dan orang-orang saleh yang telah membuat kebajikan dan menjauhi larangan Allah. Mereka itulah orang-orang yang telah diberi nikmat oleh Allah, dan kita diajar Tuhan supaya memohonkan kepada-Nya, agar diberi-Nya taufik dan bimbingan sebagaimana Dia telah memberi taufik dan membimbing mereka. Artinya sebagaimana mereka telah berbahagia dalam aqaid, dan dalam menjalankan hukum-hukum serta peraturan-peraturan agama, mereka telah mempunyai akhlak dan budi pekerti yang mulia, maka demikian pulalah kita hendaknya. Dengan perkataan lain, Allah menyuruh kita supaya mengambil contoh dan tauladan kepada mereka yang telah terdahulu itu. Timbul pertanyaan kenapakah Tuhan menyuruh kita mengikuti jalan mereka yang telah terdahulu itu, padahal dalam agama kita ada pelajaran-pelajaran hukum, petunjuk-petunjuk yang tak ada pada mereka? Jawabnya: Sebetulnya agama Allah itu adalah satu, kendatipun ada perbedaannya, tetapi perbedaan itu ialah pada furu'-furu`nya, sedang pokok-pokoknya adalah serupa sebagai disebutkan di atas. Sebagaimana di dalam umat-umat yang telah terdahulu itu terdapat orang-orang yang telah diberi nikmat oleh Tuhan, maka terdapat pula di antara mereka orang-orang yang dimurkai Allah dan orang-orang yang sesat. Orang yang dimurkai Allah itu ialah mereka yang tak mau menerima seruan Allah yang disampaikan oleh rasul-rasul, karena berlainan dengan apa yang mereka biasakan, atau karena tidak sesuai dengan hawa nafsu mereka, kendatipun telah jelas bahwa yang dibawa oleh rasul-rasul itulah yang benar. Masuk juga dalam golongan ini, mereka yang mulanya telah menerima apa yang disampaikan oleh rasul-rasul, tetapi kemudian lantaran sesuatu sebab mereka membelot, dan membelakangi pelajaran-pelajaran yang dibawa oleh rasul-rasul itu. Di dalam sejarah banyak ditemukan orang-orang yang dimurkai Tuhan itu, sejak di dunia ini mereka telah diazab, sebagai balasan yang setimpal bagi keingkaran dan sifat angkara murka mereka. Umpamanya kaum `Ad dan Samud yang telah dibinasakan oleh Allah, yang sampai sekarang masih ada bekas-bekas peninggalan mereka di Jazirah Arab. Begitu juga Firaun dan kaumnya yang telah dibinasakan Tuhan di Laut Merah. Mumi Firaun yaitu bangkainya telah dibalsem sampai sekarang masih ada disimpan dalam museum Mesir. Adapun orang-orang yang sesat, ialah mereka yang tidak betul kepercayaannya, atau tidak betul pekerjaan dan amal ibadahnya serta rusak budi pekertinya. Bila akidah seseorang tidak betul lagi, atau pekerjaan dan amal ibadahnya salah, dan akhlaknya telah rusak akan celakalah dia dan kalau sesuatu bangsa berkeadaan demikian akan jatuhlah bangsa itu. Maka dengan ayat ini Allah mengajari hamba-Nya supaya memohonkan kepada-Nya agar terjauh dari kemurkaan-Nya, dan terhindar dari kesesatan, dan di dalamnya juga tersimpul suruhan Allah supaya manusia mengambil pelajaran dari sejarah bangsa-bangsa yang telah terdahulu. Alangkah banyaknya dalam sejarah itu kejadian-kejadian yang dapat dijadikan iktibar dan pelajaran. Dalam pada itu di dalam Alquranul Karim sendiri banyak ayat-ayat yang berkenaan dengan umat dan bangsa-bangsa yang dahulu. Boleh dibilang 75% isi Alquran adalah kisah dan cerita. Memang tak ada suatu juga yang lebih besar pengaruhnya kepada jiwa manusia daripada contoh-contoh dan perbandingan-perbandingan yang terdapat dalam cerita-cerita, kisah-kisah dan sejarah.

Penjelasan arti سوءالخاتمة

Neraka Allah yang menyala-nyala itu tidak mengambil selain kepada orang-orang yang terhijab dari Allah Oleh ;MAIN VIRGIAWAN
---------بسم الله الرحمن الرحيم----------------- Penjelasan arti سوءالخاتمة (Buruk kesudahan) (-hya ‘Ulumuddin Kalau anda bertanya bahwa kebanyakan mereka itu takutnya adalah kepada suu-ul khaatimah maka apa arti suu-ul khaatimah itu ? Ketahuilah bahwasanya suu-ul khaatimah itu ada dua tingkat, salah satunya lebih besar dari yang lain. Adapun yang besar, yang mendahsyatkan adalah apabila mengerasi atas hati ketika sakaratil maut dan huru haranya adakalanya oleh keraguan dan ada kalanya oleh keingkaran. Lalu ruh diambil dalam keadaan bersangatannya keingkaran atau keraguan. Maka ikatan keingkaran yang mengeras di dalam hati itu menjadi dinding / hijab antara dirinya dengan Allah untuk selama-lamanya. Dan yang demikian ini menyebabkan kejauhan yang terus menerus dan siksaan yang tiada berkesudahan. Yang kedua adalah kurang dari yang pertama tadi bahwa mengerasi atas hati ketika mati oleh kecintaan kepada sesuatu dari dunia dan keinginan dari beberapa keinginan duniawi. Maka yang demikian ini terbentuk di dalam hatinya dan menenggelamkannya. Sehingga tidak ada lagi dari yang demikian itu tempat untuk yang lain. Maka ber-kebetulan pengambilan nyawanya dalam keadaan yang demikian, akan membalikkan kepalanya arah dunia dan memalingkan mukanya ke dunia itu. Manakala muka telah berpaling dari Allah niscaya terjadilah hijab. Dan manakala telah terjadi hijab maka turunlah azab. Karena neraka Allah yang menyala-nyala itu tidak mengambil selain kepada orang-orang yang terhijab dari Allah. Adapun orang mukmin yang hatinya sejahtera daripada kecintaan dunia danciat-citanya terarah kepada Allah maka neraka akan berkata kepadanya, “Berlalulah hai orang mukmin karena sinarmu telah memadamkan bara apiku”. Ketika berkebetulan pengambilan nyawa dalam keadaan bersangatannya kecintaan kepada dunia, maka keadaannya menjadi sangat berbahaya. Karena manusia itu mati menurut apa ketika ia hidup. Dan tidaklah mungkin diusahakan sifat lainnya dari hati bagi hati sesudah mati, yang berlawanan dengan sifat yang mengerasi / dominan atas dirinya. Karena tidak berlaku pada hati selain amal perbuatan anggota badan. Dan anggota badan itu telah batil sebab kematian, maka batillah segala amal perbuatan. Oleh karena itu tidak ada harapan lagi pada amal perbuatan. Dan tak ada lagi harapan untuk kembali ke dunia untuk memperoleh apa yang hilang. Dan saat itu amat besar lah penyesalan. Hanya pokok iman dan kecintaan kepada Allah SWT, apabila sifat ini melekat pada hati maka itu adalah masa yang sangat panjang. Dan yang demikian bertambah kuat dengan amal saleh. Maka itu akan menghapuskan dari hati (terhadap kecintaan terhadap dunia) – akan keadaan tersebut yang datang bagi hati ketika mati. Kalau ada kekuatan imannya kepada batas seberat biji sawi niscaya iman itu akan mengeluarkannya dari neraka walaupun sesudah ribuan tahun. Jika anda mengatakan, bahwa apa yang telah kami sebutkan tersebut menghendaki bahwa bersegeralah neraka kepadanya sesudah matinya, maka apa artinya (neraka) itu ditangguhkan sampai kepada hari kiyamat dan ditangguhkan sepanjang masa itu ? Ketahuilah bahwa setiap orang yang mengingkari adanya azab kubur, maka orang itu adalah pembuat bid’ah dan ia terdinding dari nur Allah SWT, dari nur Al-Quran dan dari nur iman. Bahkan yang sahih dari orang-orang yang memiliki mata hati (bashirah) ialah apa yang sahih pada hadits-hadits yaitu bahwa alam kubur itu adalah suatu lobang dari lobang-lobang neraka atau taman dari taman-taman surga. Dan terkadang dibukakan kepada kubur yang diazabkan, tuju puluh pintu dari neraka jahanam, sebagaimana tersebut pada hadits-hadits. Maka ketika nyawanya bercerai dari orang yang mati, lalu turun bala padanya kalau ia termasuk orang yang celaka dengan سوءالخاتمة Hanya saja bermacam-macam jenis azab itu seiring dengan bermacam-macamnya waktu. Oleh karena itu peratanyaan Munkar Nakir ketika orang yang mati itu diletakkan di dalam kubur dan penyiksaan sesudahnya, kemudian perdebatan pada hitungan / hisab, dan tersiarnya di hadapan orang banyak yang menyaksikan di hari kiyamat, sesudah itu bahaya pada titian shiratal mustaqiim, yaitu para malaikat penjaga neraka ( الزبانية) sampai kepada penghabisan apa yang tersebut pada hadits-hadits. Maka senantiasalah orang yang celaka itu berbolak-balik dalam semua keadaannya antara berbagai macam azab. Dan akan diazabkan dalam jumlah hal keadaan itu selain orang yang dilindungi Allah SWT dengan rahmat-Nya. Jangan anda mengira bahwa tempat iman itu dimakan oleh tanah. Akan tetapi tanah memakan semua anggota badan dan dihancurkannya sampai pada waktunya. Maka berkumpulah bagian-bagian yang tercerai berai dan dikembalikan nyawa kepadanya dimana nyawa itu adalah tempat bagi iman. Dan nyawa itu sejak dari waktu mati sampai kepada dikembalikan –adakalanya berada di dalam perut burung hijau yang tergantung di bawah ‘arsy apabila nyawa itu bahagia. Dan adakalanya dalam keadaan yang berlawanan dengan keadaan diatas. Kita berlindung kepada Allah SWT Jikalau ada nyawa itu tidak mendapat kebahagiaan. Jikalau anda bertanya, “ apakah sebab yang membawa kepada ­سوءالخاتمة ? Maka ketahuilah bahwa sebab-sebab dari keadaan ini tidak mungkin dihinggakan dengan uraian, akan tetapi mungkin untuk diisyaratkan kepada kumpulannya. Adapun kesudahan dengan keraguan dan keingkaran maka hal itu terbatas sebabnya pada dua perkara : Pertama tergambar kesudahan (ال خاتمة) serta sempurnanya wara’ dan zuhud dan sempurnanya kebaikan pada amal perbuatan itu keadaannya seperti orang yang mengerjakan bid’ah yang zuhud. Maka akibatnya berbahaya sekali walaupun amal perbuatannya salih. Dan tidaklah aku maksudkan suatu mazhab lalu aku katakan bahwa itu bid’ah. Maka penjelasan yang demikian itu akan panjanglah pembicaraan padanya. Akan tetapi yang aku kehendaki dengan bid’ah adalah : bahwa seseorang beri’tikad mengenai dzat Allah SWT, sifatnya dan af’alnya, dengan menyalahi kebenaran. Lalu ia beri’tikad menyalahi apa yang sebenarnya. Adakalanya dengan pendapatnya atau dengan yang dipikirkannya dan dengan pandangannya. Yang demikian itulah ia berdebat dengan para musuhnya, Kepada yang demikian ia berpegang, dan yang demikian itulah ia tertipu. Adakalanya ia mengambil dengan ikut-ikutan / تقلد kepada seseorang yang keadaannya demikian. Maka apabila ia telah mendekati mati, akan tampak ubun-ubun Malakul maut dan bergoncanglah hati dengan apa yang ada padanya. Kadang-kadang terbuka baginya dalam keadaan sakaratul maut itu tentang batilnya / kesalahan apa yang telah dii’tikadkannya disebabkan karena kebodohannya. Karena sesungguhnya keadaan mati itu adalah terbukanya tirai / tutup. Dan permulaan sakarat itu dari permulaan terbukanya tirai. Maka kadang-kadang terbuka sebagian perkara. Maka apabila jelas kesalahan apa yang dii’tikadkannya dan ia telah berketetapan hati dan yakin pada dirinya niscaya ia tidak menyangka bahwa ia bersalah pada i’tikadnya tersebut, karena ia terbawa kepada pendapat yang bathil dan akal yang kurang. Maka ia menyangka bahwa setiap apa yang dii’tikadkannya itu tidak berasal. Karena tidak ada padanya perbedaan antara imannya kepada Allah SWT dan Rasul-Nya dan aqidah-aqidah yang lain yang benar dengan i’tikad yang salah. Maka tersingkapnya sebagian akidahnya dari kebodohan adalah sebab batalnya akidah-akidahnya yang lain atau karena keraguannya terhadap akidah-akidah itu. Kalau kebetulan keluarnya nyawa pada kali ini sebelum ia tetap dan kembali kepada pokok iman, maka berkesudahanlah baginya dengan keadaan buruk (سوءالخاتمة). Dan keluarlah nyawanya di atas kemusyrikan. Kita berlindung kepada Allah SWT dari keadaan yang demikian. Mereka itulah yang dimaksudkan dengan firman Allah SWT وبدا لهم من الله ما لم يكونو ا يحتسبون Dan ketika itu jelas bagi mereka bahwa apa yang dahulu tiada mereka kira itu memang dari Allah. Dan dengan firman-Nya قل هل ننبئكم بلاخسرين اعمالا – اللدْين ضل سعيهم في الحيوة الدني وهم يحسبون انهم يحسنون صنعا—ال كهف 103-104 Katakan, “Kami akan beritakan kepadamu orang-orang yang peling rugi di dalam pekerjaannya. Mereka itulah yang sia – sia usahanya di dalam kehidupan dunia sedang mereka mengira bahwa apa yang mereka kerjakan itu adalah usaha yang baik. Dan sebagaimana kadang-kadang terbuka pada sakaratul maut sebagian keadaan karena, karena kesibukan dunia dan nafsu keinginan badan itulah yang mencegah hati kepada memperhatikan alam malakut. Maka ia (ketika itu akan) membaca apa yang ada di lauh mahfudz supaya terbuka kepadanya keadaan yang sebenarnya. Maka contoh keadaan ini menjadi sebab bagi keterbukaan(kasyaf) dan adalah kasyaf itu akan menjadi sebab keraguan pada i’tikad-i’tikad lainnya. Setiap orang yang beri’tikad mengenai Allah SWT, sifat-sifat-Nya dan af’al-Nya, juga akan sesuatu dibalik yang sebenarnya, maka adakalanya karena ikut ikutan / تقلد dan ada kalanya karena memperhatikan kepada pendapat dan pemikiran. Maka ia berada dalam bahaya ini. Zuhud dan kesalehan itu tidak mencukupi untuk dapat menolak bahaya tersebut. Akan tetapi tidak ada yang dapat melepaskan daripadanya selain oleh i’tikad yang benar. Dan orang-orang yang dungu dapat tersingkirkan dari bahaya ini, yakni mereka yang beriman kepada Allah SWT dan Rasul-Nya dan kepada hari kiyamat dengan iman yang مجمل (tiada terperinci) yang meresap ke dalam hatinya. Seperti orang arab dusun , orang hitam dan orang-orang awam lainnya yang tiada terjun dalam pembaahsan dan pemerhatian. Dan mereka tidak pula masuki dalam -membahas ilmu kalam (ilmu ketuhanan) secara bebas dan tidak pula mereka bertekun kepada bermacam-macam jenis orang – orang ahli ilmu kalam ( ال متكلمون ) dengan mengikuti pembicaraan mereka yang bermacam-macam. Dan karena itulah Nabi SAW bersabda, اكثر اهل الجنة البله Kebanyakan ahli surga adalah orang-orang dungu. Karena itulah dilarang oleh ulama salaf dari pembahasan , pemerhatian dan penerjunan dalam ilmu kalam. Dan pemeriksaan dari urusan – urusan itu. Mereka (para ulama salaf) memerintahkan manusia untuk membatasi diri untuk mengimani ahli ilmu kalam (ال متكلمون ) dengan apa yang diturunkan oleh Allah SWT semuanya dan dengan setiap apa yang datang secara lahiriyah saja. Serta berti’tikad akan tidak adanya keserupaan (dalam bentuk apapun antara KHALIQ dengan makhluk ). Mereka melarang manusia untuk terjun dalam penta’wilan (mencari pengertian yang dapat difahami dengan pikiran). Karena bahaya dalam membahas sifat-sifat Allah SWT itu amat besar, halangan-halangannya menyusahkan dan jalan-jalannya menyulitkan. Sedangkan akal manusia untuk memahami keagungan Allah SWT itu sangatlah pendek. Dan petunjukAllah SWT dengan نور اليقين pada hati dari tabi’atnya kepada kecintaan akan kehidupan dunia itu terhijab / terdinding. Dan apa yang disebutkan oleh para pembahas ilmu kalam dengan hanya bermodalkan akal pikiran mereka itu -akanlah membuat kacau dan bertentangan. Dan hati itu akan merasa jinak kepada untuk apa yang disampaikan kepadanya pada permulaan kejadiannya dan dengannya itu bersangkut. Dan ta’assub (kemunafikan) yang berkobar diantara manusia itu merupakan paku-paku yang teguh bagi kepercayaan-kepercayaan ayng diwarisi atau yang diambil dengan baik sangka dari para guru pada permulaan keadaannya. Kemudian tabi’at manusia itu tersangkut dengan kecintaan kepada dunia. Kepada dunia, tabi’at itu menghadap. Dan nafsu keinginan dunia itu mencekik lehernya dan menjadikan berpaling dari kesempurnaan pikiran. Maka apabila pintu pembicaraan mengenai Allah SWT dan sifat-sifat-Nya dengan pendapat dan akal itu dibuka, serta berlebih kurangnya manusia dalam kecerdasannya, berbedanya mereka dalam tabi’atnya, dan bersangatan lobanya orang yang bodoh dalam mendakwakan kesempurnaan dirinya atau mendakwakan mengetahui hakikat kebenaran –niscaya terlepaslah lidah mereka dengan apa yang terjadi bagi setiap orang dari mereka. Dan menyangkutlah / menular yang demikian itu dengan hati orang-orang yang memperhatikan kepada mereka. Dan menjadi kuatlah yang demikian sebab lamanya kejinakan hati kepada mereka. Maka adalah keselamatan makhluk itu dengan menyibukkan mereka. Lalu tersumbatlah secara keseluruhan jalan kelepasan kepada mereka. Maka keselamatan makhluk itu adalah dengan menyibukkan mereka dengan amal salih dan tidak membawa mereka kepada apa yang diluar dari batas kesanggupan mereka. Akan tetapi sekarang telah menurunlah tali kekang dan telah berkembanglah kesia-siaan. Setiap orang bodoh menempatkan diri dengan yang bersesuaian dengan pebawaannya yaitu dengan sangkaan dan terkaan. Dia berkeyakinan bahwa yang demikian itu adalah ilmu yang meyakinkan dan keimanan yang murni. Ia menyangka bahwa apa yang terjadi pada dirinya dari terkaan dan uret-uretan itu adalah ilmu yakin dan ainul yakin. Dan akan anda ketahui beritanya sesudah seketika. Dan seyogyalah dinyanyikan kepada mereka itu ketika tabir sudah tersingkap : Engkau baikkan sangkaan dengan hari-hari karena ia berbuat baik Dan engkau tidak takut dengan keburukan yang didatangkan oleh takdir Engkau diselamatkan oleh malam-malam Lalu engkau tertipu dengan semua itu Dan ketika malam menjadi jernih Datanglah kekeruhan....... Ketahuilah dengan keyakinan bahwa setiap orang yang memperbedakan iman yang penuh sangkaan dengan Allah SWT , Rasul-Nya dan kitab-kitab-Nya dan menerjunkan diri dalam pembahasan maka sesungguhnya ia menempuh bahaya ini. Contohnya adalah seperti orang yang kapalnya pecah dan dia berada dalam pukulan ombak. Ia dilemparkan oleh ombak kepada ombak yang lain. Kadang-kadang berbetulan ia dilemparkan ke pantai. Dan yang demikian itu jauh dari kejadian yang sebenarnya. Dan yang banyak terjadi adalah ia itu akan binasa. Setiap orang yang masuk dalam suatu akidah yang ia peroleh dari para pembahas (ilmu kalam) dengan modal akal pikiran mereka adakalanya bersama dalil-dalil yang diuraikannya dalam kefanatikan atau tanpa dalil sama sekali. Maka jikalau ia itu ragu padanya niscaya ia itu perusak agama. Dan jikalau ia percaya yang demikian maka dia pasti akan merasa aman dari rencana Allah SWT (مكر الله ) dan tertipu dengan akalnya yang kurang. Dan setiap orang yang terjun dalam pembahasan ilmu kalam maka ia tidak akan terlepas dari dua hal ini, kecuali apabila ia melampaui batas-batas yang diterima akal pikiran kepada nur mukasyafah yang menjadi tempat terbitnya matahari pada alam kewalian dan kenabian. Dan yang demikian itu adalah seperti belerang merah, dari manakah akan mudah diperoleh ?. Maka yang akan selamat daripada bahaya ini adalah orang yang dungu dari orang awam atau mereka yang disibukkan oleh takutnya kepada neraka dengan mentaati Allah SWT. Mereka tidak terjun pada perbuatan yang tidak penting ini. Maka inilah salah satu sebab yang membahayakan pada سوءالخاتمة. Adapun sebab kedua yaitu kelemahan pada pokok iman kemudian kecintaan pada dunia yang menguasai hati. Dan manakala iman lemah niscaya lemahlah kecintaan kepada Allah SWT dan kuatlah kecintaan kepada dunia. Lalu yang terjadi tidak ada lagi tempat di hati untuk mencintai Allah SWT selain hanya dari kata hati saja dan tidak melahirkan bekas pada penentangan hawa nafsu dan perpaling dari jalan setan. Maka yang demikian itu akan menyebabkan kebinasaan pada mengikuti hawa nafsu syahwat, sehingga gelaplah hati, kesat serta hitam. Dan bertindih lapis kegelapan hawa nafsu atas hati maka senantiasalah nur iman yang ada padanya menjadi padam di atas kelemahannya itu, sehingga jadilah yang demikian itu tabi’at dan karat. Maka apabila datang sakaratil maut niscaya bertambahlah kecintaan (kepada dunia) itu. Yakni kecintaan kepada Allah SWT bertambah lemah karena apa yang tampak dari perasaan akan berpisah dengan dunia. Dan dunia itu menjadi kecintaan yang mengerasi bagi hati lalu hati itu merasa sedih dengan perasaan perpisahan dengan dunia. Dan ia melihat yang demikian itu dari Allah SWT. Maka tergeraklah hati dengan mengingkari kematian yaitu apa yang ditakdirkan kepadanya. Dan ia tiada menyukai bahwa yang demikian itu dari Allah SWT. Maka ditakuti akan berkobarlah dalam hatinya suatu kemarahan kepada Allah SWT sebagai ganti dari kecintaannya kepada dunia. Sebagaimana orang yang mencintai anaknya dengan kecintaan yang lemah, apabila anak itu mengambil hartanya yang lebih dikasihinya dari pada anaknya kemudian harta itu dirusakkannya niscaya berubahlah kecintaan itu menjadi kemarahan. Maka jikalau berbetulan keluarnya nyawa dan pada detik itu gurisan ini (حب الدني) yang terguris di dalam hati maka beakhirlah ia dengan سوءالخاتمة dan binasalah ia untuk selama-lamanya. Dan sebab-sebab yang membawa kepada kesudahan yang seperti ini adalah kerasnya kecintaan kepada dunia, kecenderungan kepadanya dan bergembira dengan sebab-sebabnya serta kelemahan iman yang menyebabkan kelemahan kecintaan kepada Allah SWT. Maka barang siapa yang di dalam hatinya memperoleh kecintaan kepada Allah SWT yang lebih keras dari pada kecintaannya kepada dunia walaupun masih ada sisa kecintaannya kepada dunia, maka dia itu lebih jauh dari bahaya tersebut. Kecintaan kepada dunia adalah sumber pangkal kesalahan. Dan itu adalah penyakit yang melumpuhkan dan telah meratai kepada semua jenis manusia. Dan semua itu karena sedikitnya ma’rifah kepada Allah SWT, karena tiada yang mencintai Allah SWT selain orang yang mengenali-Nya. Dan karena itulah Allah SWT berfirman قل انكان آبائكم وابنائكم واخوانكم وازواجكم وعشيرتكم واموال اقترفتموها وتجارة تخشون كسادها ومساكن ترضونها احب اليكم من الله ورسوله وجهاد فيسبسله فتربصوا حتى يئنى الله بامره “Katakanlah jikalah bapak-bapakmu, anak-anakmu dan saudara-saudaramu dan isteri-isterimu dan kaum keluargamu, kekayaan yang kamu peroleh, perniagaan yang kamu takutkan kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai –Kalau semua itu lebih kamu sukai daripada Allah SWT dan Rasul-Nya dan dari berjuang di jalan Allah maka tunggulah sampai Allah mendatangkan perintah-Nya. (At-Taubah 24). Jadi setiap orang yang berpisah nyawanya pada keadaan detik keingkaran hati kepada Allah SWT dan melahirkan kemarahan kepada perbuatan Allah SWT dengan hatinya, dan pada terpisahnya ia dengan isterinya, hartanya dan lain-lain yang ia cintai, maka sesungguhnya ia datang kepada Allah SWT sebagai hamba yang dimarah, hamba yang lari dari Tuannya karena terpaksa. Maka tidak tersembunyi lagi apa yang berhak ia terima yaitu berupa kehinaan dan hukuman dari Tuannya. Adapun orang yang mati atas kecintaan kepada Allah SWT maka orang itu datang kepada Allah SWT sebagaimana datangnya hamba yang berbuat baik yang rindu kepada Tuannya yang menangung kesulitan-kesulitan perbuatan dan kesukaran-kesukaran perjalanan karena mengharap bertemu dengan tuannya. Maka tidaklah tersembunyi apa yang akan dijumpainya dari kesenangan dan kegembiraan dengan semata-mata bertemu itu. Lebih-lebih dengan apa yang berhak diterimanya dari kelemah lembutan pemuliaan dan kecemerlangan penikmatan..........bersambung انشاء الله

Kamis, 22 November 2012

SYECH ABDUL QODIR J.MENITI JALAN ILAHI

Diriwayatkan dari Syaikh Abdullah An-Najjar bahwasanya Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani pernah berkata saat dilanda berbagai cobaan yang berat, “Jika banyak cobaan yang menimpa diriku, aku berbaring di atas tanah dan berkata, ‘Sesungguhnya sesudah kesusahan ada kemudahan. Sesungguhnya sesudah kesusahan ada kemenangan’. Dan ketika aku bangun berbagai beban tadi telah pergi dariku”. Kemudian sang Syaikh melanjutkan, “Setelah belajar fiqih dari para syaikh,
aku pergi dari Baghdad ke daerah padang pasir. Aku tinggal diantara pohon Kharab. Aku memakai jubah kaum sufi dengan sepotong kain di atas kepalaku dan berjalan dengan kaki telanjang. Memakan Khurnub (carob / ceratonia Siliqua) atau Syuuk (caltrop / Tribulus), sampah para pedagang dan daun kol yang tumbuh di tepian sungai. Aku jalani semua rintangan dan jalanberjalan mengikuti kehendak Allah. Ketika tiba di
padang pasir aku berteriak, ‘ludahi mukaku’. Ketika itu aku hanya dikenal sebagai si bodoh atau si gila. Kakiku membawaku ke Bimaristan dan aku hamper meninggal di sana. Para penduduk dating dengan membawa kain kafan dan tukang memandikan mayat, kemudian mereka mengangkat aku ke tempat pemandian untuk memandikanku dan kemudian meninggalkanku”. Syaikh Abu Su’ud Al-Harimi meriwayatkan bahwa beliau pernah mendengar Syaikh Abdul Qadir berkata, “Selama 25 tahun aku mendiami padang pasir Iraq, selama itu aku tidak pernah bertemu dengan orang, maupun diketemukan orang. Pada masa itu sekelompok Jin dan Rijal Gaib datang kepadaku dan aku mengajarkan jalan menujun Allah kepada mereka. Nabi Khidir AS menemaniku pada saat aku tiba di Iraquntuk pertama kali
walaupun aku tidak pernah berjumpa beliau sebelumnya. Baliau mengajukan syarat kepadaku untuk tidak membantahnya dan berkata kepadaku “Duduk di sini” akupun duduk di situ selama tiga tahun dan setiap tahun beliau mendatangiku dan berkata “tetap di tempatmu sampai aku datang” Pada masa itu , dunia serta segala kemewahan dan keindahannya menjelma dan datang kepadaku namun Allah melindungiku dari semua itu Kemudian setan mendatangiku dalambentuk yang menakutkan dan memerangiku namun Allah menguatkanku. Allah tampakkan pula nafsuku dalam bentuk yang terkadang tunduk kepada apa yang aku inginkan tapi kadang pula memerangiku dan Allah memenangkan aku atas dirinya. Semua metode mujahadah aku jalani pada masa awal perjalanan spiritualku bertahun tahun lamanya aku menempati pinggiran kota menempa diri. Ada kalanya dalam setahun aku hanya memakan makanan dan tidak minum. Kemudian pada tahun berikutnya aku hanya minum dan tidak makan. Kamudian tahun berikutnya aku tidak makan dan minum serta tidur selama setahun. Pada suatu malam yang sangat
dingin aku tertidur di Iwan Al-
Kisra dan bermimpi basah. Aku bangun dan langsung mandi kemudian tidur dan kembali bermimpi . Aku kembali bangun, pergi ke sungai dan mandi besar. Pada malam itu aku berjunub dan mandi sebanyak 40 kali. Akhirnya aku memanjat menara Iwan Al-Kisra karena takut akan bermimpi lagi “. “Betahun tahun aku hanya tinggal di sebuah gubuk reyot dan hanya makan kain bajuku. Setiap tahun seseorang memakai jubah sufi dating kepadaku dan memasukkan aku ke seribu fan hingga aku melupakan dunia……..Saat itu aku hanya dikenal sebagai si bodoh atau si gila dan berjalan dengan bertelanjang kaki. Aku selalu melewati rintangan yang ada dan tidak takluk kepada nafsu dan tiak pula tergoda dengan kemewahan dunia “. Syaikh Umar meriwayatkan bahwa beliau pernah mendengar Syaikh Abdul Qadir
berkata, “Pada permulaan perjalanan spiritualku, bernagai kondisi spiritual mendatangiku. Aku menyambutnya dan tenggelamlah “aku “ di dalamnya. Dalam keadaan tersebut aku biasanya berlari-lari tanpa sadar. Bila aku keluar dari kondisi tersebut, aku akan mendapatkan diriku telah jauh dari tempat aku masuk ke dalam kondisi spiritual tersebut “. Pernah suatu ketika aku masuk ke dalam sebuah kondisi spiritual di Baghdad dan aku berlari kira-kira satu jam tanpa sadar. Setelah sadar aku mendapati diriku berada di negeri Systar yang berjarak 12 hari perjalanan dari Baghdad. Ketika aku sedang memikirkan perkaraku ini , tiba-tiba ada seorang wanita berkata kepadaku, ’engkau terpesona dengan kondisimu padahal engkau Syaikh Abdul Qadir Jailani ‘. Syaikh Utsman Shairafi meriwayatkan bahwa Syaikh Abdul Qadir bercerita, “Siang mauupun malam aku tinggal di padang pasir, bukan di Baghdad. Sepanjang masa itu para setan mendatangiku berbaris dengan rupa yang menakutkan, menyandang senjata dan melontariku dengan api. Namun saat itu pula aku mendapatkan keteguhan dalam hatiku yang tak dapat aku ceritakan dan aku mendengar suara dari dalam hatiku yang berkata “Bangkit hai Abdul Qodir” telah kami teguhkan engkau dan kami dukung engkau. dan ketika aku bangkit mereka pun kocar-kacir, kembali ke tempat semula Setelah itu ada setan lagi datang dan mengancamku dengan berbagai ancaman, akupun bangun dan menamparnya hingga dia lari pontang panting. Kemudian aku baca Laa haula walaa quwwata illa billahil ‘aliyyil ‘adziim, dan terbakarlah ia. Di lain waktu setan mendatangiku dengan rupa seorang yang buruk rupa dan berbau busuk seraya berkata “Aku Iblis datang melayanimu karena ku dan para pengikutku
telah putus asa terhadapmu. “Pergi” kataku kepadanya. aku tidak percaya dengan apa yang engkau ucapkan. Saat itu muncul tangan dari langit memukul ubun-ubunnya hngga iblis tersebut terbenam ke dalam bumi. Ke dua kalinya iblis tersebut mendatangiku dengan membawa sebuah bola api untuk menghancurkan aku. Ketika itu datanglah seorang berjubah dengan mengendarai
seekor kuda memberikan sebilah pedang kepadaku. Melihat hal ini si iblis mundur,
tidak jadi menyerangku. Ketiga kalinya aku melihat iblis duduk menjauh dariku sambil menaburkan tanah di kepalanya seraya berkata ” Aku putus asa terhadap dirimu wahai Abdul Qodir” maka aku jawab “Aku tetap curiga terhadapmu”. mendengar jawabanku ini iblis berkata ” ini lebih dahsyat daripada bala”…………….. Kemudian disingkapkan kepadaku berbagai jaring. ‘Apa ini?’ tanyaku. ‘ini’ jawab sebuah suara, ‘adalah jarring-jarring dunia yang menjerat orang-orang sepertimu ‘. Akupun berpaling dan melarikan diri darinya. Aku habiskan satu tahun untuk memeraginya hingga aku dapat lepas dari semua itu. Setelah itu disingkapkan kepadaku berbagai sebab yang berhubungan dengan diriku. ’Apa ini ?’. Tanyaku. ’ini
adalah sebab musabab kemakhlukan yang berhubungan dengan dirimu, ’ jawab sebuah suara kepadaku. Akupun menghadapinya selama setahun sampai hatiku lepas dari semua itu ’. Tahap selanjutnya disingkapkan kepadaku isi dadaku dan aku melihat hatiku tergantung kepada berbagai hubungan. Aku bertanya “apa ini?” suara tersebut menjawab ,’ini adalah kemauan dan plihanmu,’ Jawaban tersebut membuatku menghabiskan waktu setahun lainnya untuk memerangi hingga aku dapat lepas dari semua itu,’. Berikutnya disingkapkan kepadaku jiwaku dan aku melihat berbagai penyakit masih bercokol, hawa nafsunya amsih hidup dan setan yang ada di dalamnya masih bercokol, haw nafsunya masih hidup dan setan yang ada di dalamnya masih melawan. Aku memerlukan setahun lainnya untuk memerangi semua itu hingga berbagai penyakit hati hilang., hawa nafsunya mati dan setan berhasil aku tundukkan. Dengan demikian segala sesuatu hanya untuk Allah semata’. Pada tahap ini akku benar- benar sendiri, semua yang eksis aku tinggalkan di belakang dan aku tetap belum berhasil mencapai junjunganku. Aku seret diriku ke pintu tawakal agar dapat masuk menemuinya. Namun setibanya aku di pintu tersebut, aku mendapatkan kerumunan orang yang membuatku mundur. Begitu pula di pintu syukur, kekayaan, kedekatan, penyaksian (musayhadah) semuanya penuh dengan orang-orang. Akhirnya aku menyeret diriku ke pintu kefakiran. Aku dapati pintu tersebut kosong dari orang- orang, maka aku memasukinya dan mendapatkan di dalamnya berisi semua yang aku tinggalkan dan Harta Karun paling besar dan Kemuliaan Paling Agung (Allah SWT)”. Syaikh Abu Muhammad Abdullah Al-Jaba’I menyatakan bahwa Syaikh Abdul Qadir pernah berkata, “Suatu saat aku duduk di tengah padang pasir, sedang mengulang-ulang pelajaaran fiqih dalam keadaan kelaparan. Tiba-tiba muncul suara yang berkata kepadaku ,’ Mengapa Aku tidak melihatmu meminjam uang agar engkau dapat belajar fiqih –atau menuntut ilmu- (dengan tenang)’. ‘Bagaimana aku berhutang sedang aku tidak sanggup untuk melunasinya ‘. Jawabku. Kemudian suara tersebut berkata , ‘cari pinjaman dan kami yang akan membayarnya’. Akupun pergi ke seorang penjual sayur dan berkata kepadanya, ‘maukah engkau bertransaksi kepadaku tapi dengan syarat jika aku aku dapat mengembaloikan apa yang aku pinjam maka aku akan mengembalikannya kepadamu . Namun jika aku mati dan tidak dpat mengembalikannya maka engkau menghalalkannya untukku. Yang aku minta adalah sepotong roti dan sedikit seledri ’. Penjual tersebut menangis mendengar permintaanku dan berkata, ’Sayyidi (tuanku), aku halalkan semuanya untukmu. Ambil saja yang engkau suka ’. Sejak saat itu aku selalu menerima sepotong roti dan seledri. Namun setelah hal tersebut berjalan beberapa lama mulai timbul perasaan tidak enak di hatiku karena ketidak mampuanku membayar si pedagang. Sat itu sebuah suara berkata kepadaku, “Pergilah ke tempat A. dan bayarkan kepada pedagang tersebut apa
yang engkau lihat di atas batu ’. Akupun ke tempat tersebut dan melihat sebongkah besar emas di atas batu yang kemuduan aku bayarkan kepada si pedagang “. Dalam riwayat yang lain Syaikh Al-Jaba’I meriwayatkanbahwa Syaikh Abdul Qadir pernah berkata, “aku sedang bersama orang- orang belajar fiqih ketika suatu saat musim panen tiba. Oranag-orang tersebut biasanya pergi ke Rusytaq untuk meminta sedikit bagian dari panen. Pada suatu hari mereka akan pergi ke Ba’quba dan mengajakku. Akupun pergi
bersama mereka. Di Ba’quba tinggal seorang Shaleh bernama Ya’qubi. Ketika ia melihatku, dia berkata kepadaku, ’Murid Al- Haq (yang menginginkan Allah) dan orang-orang saleh tidak pernah meminta sesuatu kepada seseorang. ’beliau melarangku untuk meminta sesuatu kepada manusia. Dan sejak saat itu aku tidak pernah pergi ke tempat tersebut.” Syaikh Abdul Qadir juga pernah berkataa, “suatu malam aku tenggelam dalam kondisi spiritual yangn membuatku berteriak. Saking kerasnya teriakanku, para penjaga sampai terkejut dan mendatangiku. Ketika mendapatiku sedang tersungkur di tanah, mereka segera mengenaliku dan berkata, ini Abdul Qadir Al- Majnuun (si gila) yang sengaja mengagetkan kita untuk iingat kepada Allah “.

Selasa, 20 November 2012

KELAHIRAN SYECH ABDUL QODIR JAELANI RA.

Kelahiran Syeh Abdul
Qodir Al-Jailani ra.

Beliau adalah Syeh Muhiyudin
Abu Muhammad Abdul Qodir
bin Abu Saleh Jinki Dusat bin
Musa Al Juun, bin Abdulah Al-
Mahd bin Hasan Al Mustanna,
bin Amirul Mu’miniin Abu Hasan bin Amirul Mu’miniin Ali
bin Abi Tholibbin Abdul
Muntholib, bin Hasyim bin
Abdul Mnaaf, bin Qushay, bin
Kilab bin Murrah bin Ka’ab
bin Lu’ay bin Gholib bin Fahr bin Malik bin Nadhar bin
Kinanah bin Khuzaimah bin
Mudrikah bin Ilyas bin
Madhar bin Nadzar bin Ma’ad
bin Adnan Al Quraisyi Al-
Alawi Al Hasani Al-Jilli Al- Hambali. Beliau adalah cucu dari Syeh
Abdullah Asshouma’I ,
pemimpin para zuhad (asketis)
dan salah seorang Syeh kota
Jilan serta dianugerahi
beberapa karomah. Syeh Abu Abdilah Muhammad Al-
Qazwany berkata “Syeh
Abdullah Ash-shouma’I
adalah seorang yang
mustajab doanya. Apabila dia
marah maka Allah akan segera menghancurkan yang
dimurkainya. Dan apabila
beliau menyenangi sesuatu
maka Allah akan menjadikan
sesuat tersebut sesuai
dengahn yang dikehendakinya. “ dibalik kerapuhan badan dan
kerentaan usianya beliau
masih konsisten melaksanakan
amalan sunah dan berzikir.
Kekhusyuannya
dapatdirasakan oleh semua orang , sangat sabar dalam
kekonsistenannya dan sangat
menjaga waktunya. Beliau
sering mengabarkan tenteng
sesuatu yang belum terjadi
dan kemudian terjadi seperti apa yang beliau kabarkan. Seorang sahabat kami
(penulis) meriwayatkan
“suatu saat ketika kami
sedang melakukan perjalanan
niaga, segerombolan
perompak menyerang kami di padang pasir Samarkand. Saat
itu ada yang berteriak
emmanggil Syaikh Abdullah
Ash-shouma’I dan berikutnya
beliau muncul di tengah-
tengah kami seraya mengucapkan ”Subbuhul
Quddus”menjauhlah daei
kami’. Gerombolan perampok
itu bercerai berai . setelah
selamat dari serangan itu
kami mencari sang Syaikh dan tidak menemukannya . dia raib
begitu saja. Setibanya kami di
Jilan, kami menceritakan hal
tersebut kepada orang-orang
dan mereka berkata “demi
Allah , Sang Syaikh tidak pernah hilang dari kami.” Diriwayatkan dari Hafidz
Dzahabi dan Hafidz Ibnu
Rajab bahwa ayah beliau
adalah Shalih Jinki
Dusat ,Wallahu A’lam. Dan
Dusat yang berasal dari bahasa non Arab – berarti
suka berperang. Wallahu
a’lam. Ibu beliau adalah Fatimah
binti Syaikh Abdullah Ash-
shouma’I . diriwayatkan
darinya ,”setelah lahir
anakku Abdul Qodir tidak mau
menyusu pada saat Ramadhan. Oleh karena itu jika orang-
orang tidak dapat melihat
hilal penentuan bulan
Ramadhan , mereka
mendatangiku dan
menanyakan hal tersebut padaku. Jika aku menjawab
‘hari ini anakku tidak menyusu
maka orang-orangpun megerti
bahwa bulan Ramadhan telah
tiba.’ Bahwa beliau bayi yang
tidak menyusu pada bulan Ramadhan adalah sesuatu
yang masyhur di Jilan. Diriwayatkan bahwa saat
mengandung beliau usia
ibunya 60 tahun. Ada yang
mengatakan bahwa tidak ada
perempuan yang hamil pada
usia 60 tahun kecuali wanita quraisy dan tidak ada wanita
yang dapat hamil pada usia 50
tahun kecuali wanita Quraisy. Syaikh Abdul Qodir berada
dalam pengasuhan orange
tuanya hingga amencapai usia
18 tahun. Saat itulah
bertepatan dengan tahun
wafatnya At-Tamimi (448 H) , beliau pergi ke Baghdad.
Waktu itu yang berkuasa
adalah Sultan Al-Mustadzir
Billah Abu Abbas Ahmad bin
Al-Muqtadi bin Amrillah Abul
Qasim Abdullah Al-Abbas. Imam Taqqiyuddin Muhammad
Al-Waidz Al-Lubnani dalam
kitabnya Al-Mausum bi
raudhoh al-abrar wa mahasin
al-akhyar meriwayatkan
ketika Syaikh Abdul Qodir hendak memasuki kota
Baghdad, beliau menjumpai
Khidir as, berdiri di depan
pintu, menghalanginya masuk
dan berkata “Aku tidak
memiliki perintah yang memperbolehkanmu
memasuki Baghdad hingga 7
tahun ke depan.” Syaikh
Abdul Qodir akhirnya
bermukim di tepian Baghdad
dan hidup dari sisa-sisa makanan selama 7 tahun. Hingga pada suatu malam di
tengah hujan deras, sebuah
suara berkata kepadanya
“Abdul Qodir masuklah ke
Baghdad.” Beliaupun
memasuki Baghdad dan menuju ke Mushola Syaikh
Hammad bin Muslim Ad-
dabbas . sebelum beliau tiba,
Syaikh Hammad
memerintahkan murid
muridnya untuk mematikan lampu dan menutup semua
pintu. Ketika tiba dan mendapati
pintu tertutup serta lampu
sudah dimatikan, Syaikh
Abdul Qodir duduk di depan
pintu dan tertidur lalu
bermimpi basah. Bangun dari tidurnya beliau langsung
mandi besar lalu kembali
tidur dan kembali bermimpi.
Baliau kemudian mandi besar.
Hal tersebut berulang sampai
17 kali. Saat subuh tiba, pintu dibuka
dan masuklah Syaikh Abdul
Qoodir Al-Jailani. Syeikh
Hammad bangkit
menyambutnya, dan
memeluknya dan menangis sambil berkata “Anakku
Abdul Qodir saat ini negeri ini
milik kami dan besok akan
menjadi milikmu. Apabila
engkau berkuasa kelak,
berlaku adilah terhadap orang tua ini.” Diriwayatkan oleh Imam
Nurruddin Abu Hasan Ali bin
Yusuf bin Jarir bin Ma’dhad
bin fadl Asy-Syafi’i Al-
Lakhmi , pengarang kitab
Bahjat Al-Asrar,”Wahai yang kedatangannya merupakan
awal dari kebahagiaan bagi
negeri yang kelak menjadi
tempat tinggalnya, diikuti
awan rahmat yang menutup
seluruh daerahnya, berlipat ganda hidayah di dalamnya
sehingga para Abdal dan
awtadnya kembali bersinar,
utusan-utusan berdatangan
mengucapkan selamat
sehingga setiap hari di dalamnya merupakan hari
besar…..”